Selasa, Juli 01, 2008

Buku dan Jodoh perjodohan


“orang yang bodoh adalah orang yang meminjamkan bukunya, dan orang yang paling bodoh adalah orang yang mengembalikan buku pinjamannnya”


silakan bunuh diri bila kecewa bahwa nasihat itu justru keluar dari mulut seorang dosen. Dosen lainnya justru lebih gila katanya bila melihat artikel menarik dalam suatu buku/ literatur maka sobeklah! Bawa pulang.

Diatas langit ada langit, diatas gila ada paling gila karena kedua dosen itu adalah dosen favoritku selama kuliah. Tapi tenang saja saya tidak seekstrim menuruti nasihatnya walau ternyata nasehat tersebut ada gunanya.

Saya banyak sekali membaca buku terutama buku populer. Ketika saya bercerita tentang isi novel atau buku populer pada teman maka spontan mereka ingin meminjam. Saya tak ijinkan karena memang tak punya. Baru saya sadari ternyata pertemuan saya dengan buku bisa dibilang misterius bila tak mau dibilang nasib.

Ritual saya memang suka main ke toko buku atau tukang loak jualan buku bekas di pusat kota Bandung. Salah kalau ada yang menyangka saya pasti memiliki koleksi buku satu lemari penuh atau lebih ekstrim lagi yaitu sebanyak teman koleksi teman saya satu kamar mirip 'gua Hira'. Karena memang koleksi buku saya bisa dihitung dengan jari yang saya miliki dan meminjam jari teman sedikit. Ini bila maksudnya buku diluar buku akademis.

Dalam ritual itu biasanya saya melihat buku baru, lalu sedikit berpandangan bahwa buku tersebut pasti best seller dan memang terjadi tak seberapa lama. Anehnya bukannya membeli saat belum booming saya justru bisa membaca buku-buku best seller setelah booming. Padahal dalam dunia sinema itu berarti ekslusivitas nonton premiere, bercerita tentang film pertama kali dan pendengar pasti tak ikut komentar bila belum menonton andai ditambahin bumbu-bumbu sebdiri takkan dicap bohong. Bila digambarkan mirip seorang sufi dimana pengikut menelan bulat-bulat omongannya.

Hubungan saya dengan buku biasanya dumulai dengan 'menandai' buku kemudian si buku saya sumpahin bakal saya baca! Tentunya dengan sedikit berdoa memohon 'ya Allah takdirkan saya bisa membaca buku ini bagaimanapun caranyas ungguh kekuasan hanya ada pada-Mu' dan berikut mungkin jawabannya.

Percaya atau tidak saya membaca seluruh seri Harry Potter tanpa memiliki satu buku pun, dan perkenalan dengan buku itu justru didapat dari teman dekat yang setiap hari bareng dia baca berari-hari sampai lecek saya jadi penasaran membaca buku HarPot pertama hanya dengan beberapa jam saja lalu jatuh cinta. serupa dengan koleksinya Ayu Utami dan Fira Basuki kecuali seri Mrs B aku tak begitu suka teenlit or Chiclit. Koleksi selanjutnya saya pinjam dari sebuah Taman bacaan.

Lalu Buku Habiburahman El Shirezy justru terjadi saat saya harus mencari bahan untuk tugas kuliah dan uang saku selalu kalah bila harus memilih novel daripada buku akademik tanpa pernah saya cerita begitu inginnya punya buku tersebut eh teman tak terlalu dekat memberi kado buku kang Abik saat ultah.

Yang aneh justru pertemuan saya dengan buku Jalaluddin Rahmat, beliau guru besar fakultas Ilmu Komunikasi dan menjadi semacam buku wajib entah mengapa saya justru bisa tenang membaca isi buku komunikasi saat saya ambil sosial itupun saya lahap isinya diperpustakaan , dan buku Road to Allah yang keren itu justru dipinjami teman yang belum begitu lama kenal dan baru pulang dari Aceh.

Kalau memang harus cerita pertemuan saya dengan isi buku-bukupopuler mungkin saya harus membuat sepuluh atau seratus posting. Mirip menggambarkan kebesaran Allah yang walaupun harus ditulis dengan tinta sebanyak lautan dan ditambah lautan lagi tetap tak tergambarkan. Saya jadi excited menceritakan nasib yang justru lebih indah lagi. Kebetulan-kebetulan yang saling behubungan semakin menyilaukan mirip dengan banyak pertemuan dengan orang-orang sekilas namun bertahun kemudian bertemu lagi justru berkawan baik. Wah harus lebih peka membaca alam nih... aku tak sabar melihat indahnya nasib kelak dan meceritakan kembali di posting disini.

Minggu, Mei 11, 2008

Malam Minggu-mu ada dimana?

Hampir seperti rutinitas malam minggu saya ada di taman pengelolaan kebudayaan Jawa Barat Dago Tea house setiap kali ada pementasan seni dari seluruh kota terutama Jawa Barat, Sebagai bentuk kepedulian provinsi terhadap kota didalamnya disediakanlah wadah dan waktu untuk berkreativitas dalam agenda rutin tahunan. Saya suka sekali kesana selain tempatnya ada tepat dibelakang kampus namun tempat ini juga menjadi tempat Favorit saya sejak SMU.


Berbeda dengan banyak malam pagelaran seni sebelumnya, malam kemarin jauh lebih meriah. Kebetulan seminggu belakang sedang diadakan pesona budaya Cirebon. Semua tokoh tumplek disana mulai dari pejabat pemerintahan, pelaku dan penikmat seni, wartawan bahkan anak kecil. Tea House lebih penuh dari biasanya, maklum ada pembagian makanan khas Cirebon juga. Ngomong-ngomong soal makanan, disabuse apa sih makanan terbuat dari tepung ketan manis tapi berisi sesuatu yang pedes sekali seperti merica?.


Dalam seminggu itu juga ada pameran kerajinan tangan dan lukisan, namun ada yang membuat saya jauh terkesima yaitu batiknya. Selama ini saya kurang mengetahui kalau Batik Mega Mendung yang diidentikkan dengan Batik khas Jabar berasal dari Cirebon bahkan banyak corak batik yang menakjubkan yang berbeda dengan tanah Jawa.sayang saat itu saya tak bawa kamera.


Malamnya baru disuguhkan pementasan dramatari “Rangdu Kentir” sebagai penutup rangkaian kegiatan, tak banyak yang bisa saya ceritakan karena dramatari selalu berisi kemenangan kebaikan melawan kejahatan dibungkus dengan sentuhan adat dan agama, percintaan yang terpisah oleh waktu dan dunia. Namun begitu dramatari tak pernah serupa karena pembedanya yaitu tariannya sendiri. Semalam tariannya rampak dan ajaibnya dilakukan bukan oleh muda-mudi Cirebon melainkan oleh para sesepuh seni yang mungkin sudah berumah tangga sampai-sampai Bapak-bapaknya lupa bermake-up panggung.


Saya terkesan saat penutupan diadakan tayuban. Semua penari menarik penonton untuk menari. Bila dibelahan tanah Sunda lain ini dinamakan sawer dan lebih dimaksudkan pada erotisme maka tayuban lebih pada penghormatan penari pada penontonnya. Semua orang yang hadir ditarik tanpa paksaan, ada KADISBUDPAR JABAR, KADISBUDPAR CIREBON, Jajaka dan Rara Cirebon, sampai para turis asing ikut turun menari dan penuhlah area pementasan. Kehebohan yang sama ditampilkan kota Depok seminggu sebelum Cirebon


Saya menunggu kehadiran kota lain diJABAR melakukan hal yang sama di Tea House, karena sebenarnya wadah dan waktu selalu ada, diskriminasi itu sebenarnya hanya pikiran sebagian orang yang individualistis saja. Modernitas dan pendidikan justru peregang persatuan, maka sedihlah saya ketika tahu Bogor dan Depok akan membentuk provinsi baru. Saya sedang membaca dulu lengkapnya mengenai ini akan saya posting kemudian. Salam

Sabtu, Mei 10, 2008

Bendera Putih

Siapa tak kenal keagungan Taj Mahal? Keromantisan sejarah pembangunannya?
Taj Mahal selalu jadi simbol kekuatan cinta, terletak di kota Agra India disebelah sungai yang mungkin tak seindah di setiap jepretan kamera. Dulu tepatnya akhir tahun 2001 saya menggilai bangunan ini untuk alasan yang tak jelas.

Mendownload semua gambar Tajmahal yang kemudian semuanya hilang setelah komputer saya di format ulang. Sekarang saya sedang ingin melambangkan posting ini dengan Taj Mahal kali ini dengan alasan nostalgia dan juga simbol : saya menyerah pada kekuatan cinta....

seminggu yang lalu, badan saya menggigil, demam akibat batuk dan flu. Derita itu saja belum cukup karena tiba-tiba saya harus mempersiapkan sidang skripsi hanya 5 hari itupun 2hari dipotong weekend, sedangkan birokrasi syarat-syarat skripsi yang aduhai itu bukan perkara mudah. Demam tak dirasa dulu, saya kekampus dan karena teledor syarat saya kurang tanda tangan ketua jurusan sedangkan pendaftaraan ditututp jam 5 sore dan admin baru buka jam 2.

bila anda kenal Bandung coba bayangkan saya harus berangkat dari dago tea house-jatinangor-dago tea house hanya dengan waktu 3 jam! Apa gak pengen gila tuh? Sudahlah daripada 'karugrag' saya menyerah saja pada keadaan seandainya memang harus diundur. Singkat cerita bisa juga saya sidang tanggal 13 mei nanti.

Lalu apa hubungannya dengan Taj Mahal??

jujur saja jemawanya saya akhirnya runtuh juga. Selama skripsi ini saya ngebatin sekali, nangis bukan lagi jawaban. Saya akhirnya menyadari bahwa saya membutuhkan pacar untuk menemani. Tadinya saya pilih Taaruf dalam meilih jodoh kenyataannya saya tak siap nikah namun tak siap sendiri.

Saya belum terlalu akhwat dalam pergaulan jadinya saya suka sendiri sedangkan teman2 pada berpasangan, kadang mereka meledek walaupun seringnya mereka menyarankan segera cari pacar. Mungkin bila berdua segala beban perasaan atau memang beban fisik dapat terbagi dan keteledoran tak harus terjadi. Malah akhir-akhir ini keteledoran itu semakin menjadi, orang sunda menyebutnya 'Jangreung' artinya secara tak sadar yang bersangkutan ingin segera berpasangan baik dalam konteks pacaran ataupun menikah. Tiba-tiba istilah itu menjadi pembenaran untuk langkahku

Apa hukumnya saya tak tahu, moga saja tak terlalu berat dan moga saja saya cepat membuka hati.






Kamis, April 24, 2008

Kesaktian Orang Indonesia

Sepertinya saya harus segera pergi ke shrink!


Kejadiannya sungguh tak enak dilihat, hampir seminggu ini saya cengengesan orang bilang mungkin saya sedang jatuh cinta, kalau begitu orang gila dipinggir jalan adalah pecinta sesungguhnya bukan? Saya menjawab dalam hati karena ingin menikmati moment tentang suatu cerita yang membuat saya cengengesan.


Sudah lama kita mendengar hal ajaib, lucu dan ‘kreatif’ mengenai orang Indonesia, dan cerita ini saya rasa melengkapi dugaan tersebut. Cerita ini saya dengar dari Pengalaman seorang ustad Akhmad Humaedi di pengajian terkenal di Bandung. Beliau cerita kalau belajar untuk berbahasa Arab itu penting, bukan karena biar diterima casting film ayat-ayat cinta atau bukan juga karena kita orang Islam. Saya lalu menambahkan dakwah untuk diri sendiri dan dalam hati tentu saja, yah… saya harus bisa berbahasa Arab agar dapat menggaet keturunan raja-raja Arab lalu menguasai perdagangan minyak seluruh dunia sehingga obsesi jadi orang kaya terbayar sudah. Obsesi jadi orang kaya sih memang tak perlu bisa bahasa Arab, kamu punya body oke jual sama Bambang Tri dan bersainglah dengan Mayangsari masih dirasa ampuh di Indonesia. Lamunan kuhetikan kudengarkan lagi cerita sang Ustad.


Beliau cerita bahwa Bahasa Arab adalah bahasa yang dipakai ketika kita di Surga, semua malaikat menanyai kita dengan bahasa Arab. Tak lupa beliau menambahkan joke, “makanya bisa bahasa Arab karena nanti gak bakal ngerti malaikat ngomong apa” semua yang hadir tertawa, namun kemudian dia menenangkan audiense dengan keterangan ‘ tenang saja toh hal itu nanti berjalan otomatis’. Pengajian kembali khidmat mendengar ceramah sang Ustad yang kemudian bercerita pengalamannya.


Suatu ketika beliau menghadiri forum Bahasa Arab Internasional di Mesir (maaf seperti biasa saya lupa detil kotanya, bila anda hadir dipengajian itu tolong koreksi). Dalam forum itu dijelaskan pula tentang kebenaran di surga kita semua berbahasa Arab. Lalu sang Ustad dengan mimik yang lucu bilang ‘ salut saya, ada orang Indonesia yang bertanya dan pertanyaanya sungguh hanya orang indonesia saja yang terpikir akan hal tersebut, yang bertanya mungkin kebetulan mahasiswa pertanyaannya : kalau bahasa Arab digunakan di Surga, apakah bahasa yang sama digunakan di neraka?” pemimpim forum yang dalam bayangan saya pasti orang yang mejilati dengan lezat semua kitab tampak terkejut dan bingung meski kemudian dia tidak tertawa meledek. Dengan bijak dan mimik wajar beliau menjawab “ saya kira memang demikian, dan semoga anda tidak belajar bahasa Arab di neraka”


Huahahaha…haaha…. Sampai sekarang saya masih cengengesan dengan cerita ini, makanya saya bagi kepada anda semoga menjadi lebih bangga menjadi Orang Indonesia. Khayalan saya kembali terbang : berarti Gusmuh pasih sekali berbahasa Arab karena blog-nya saja penghuni neraka.


Serius saya harus pergi ke shrink karena baik itu pengajian, berita TV, kejadian KKN dan kehidupan sehari-hari tak ada yang masuk otak saya kecuali cerita lucu dan nyeleneh melulu. Maukan jadi Shrink-lu?

Selasa, April 01, 2008

Ayat-Ayat cinta Kontroversi

oke! saya akui telat nonton film ini. satu saja alasannya, males ngantri! gilanya hampir sebulan film ini tayang dan saya tetap.... antri!

Buat yang penah baca bukunya saya ucapkan selamat kecewa, apalagi untuk yang berharap akan mirip abis. Dan buat yang belum baca bukunya saya ucapkan selamat bergabung dengan grup presiden.

Saya akan berlagak sok kritikus film

Pujian saya ditujukan untuk:

Hanung tentu, sudah nekat memfilmkan novel religi yang berlatar belakang mesir namun menghadirkannya di Semarang. Untuk keberaniannya membuat cerita jauh dari novel. Nung! Ini adalah editan film garapanmu yang terapih! Kurasa continuity menghadirkan skill membuat film. Coba nung ulangi kesuksesanmu dengan menggarap novel Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur?? Semoga tak mendapat ancaman dibunuh seperti penulisnya.

Fedi nuril, untuk kemauannya belajar bahasa Arab, dan kapan mau macarin pipit nurul?

Habiburahman el Shirezy, core dari cerita ini berasal dari novel anda, dengar-dengar akan memfilmkan ketika cinta bertasbih?? Waspadai second success sindrome karena novel kedua ini tak sedasyat AAC.

Kritikan …. Berhubung saya penggila film, kritik dan pujian mestinya tak berpengaruh.

Justru saya mengkritik para pembaca novel AAC yang kecewa. Bagusnya kita selalu membedakan satu karya dengan lainnya. Novel dibuat oleh orang yang berbeda dengan sutradaranya. Karena saya suka baca lambat laun saya mengerti bahwa menilai karya tulis harus dipisahkan dengan penulisnya. Tulisan seseorang lahir dari bacaan yang dia baca, pengalaman yang dia punya bahkan khayalan yang dia rasa. Jangan heran kita sering mendapati buku yang mengajarkan berakhlak baik justru dari orang yang bejat. Makanya saya tak kaget menemukan tulisan yang ‘garang’ namun keluar dari orang pendiam, lemah lembut, santun bahkan romantis. Sampai sekarang saya tetap berpandangan begitu. Bahkan saya belum membaca satupun tulisan karya Dee yang fenomenal sekalipun seperti supernova, karena saya mengagumi beberapa pemikirannya sebagai individu. Begitupun dengan bukunya Cak-Nun untuk yang ini uangnya selalu berebut dengan bacaan lain saya harap bisa berguru langsung padanya suatu saat.

Siapa yang se-isme dengan saya? Berarti tunggu tulisan saya…..

Rabu, Maret 12, 2008

kita lebih maju

Sudah cukup segala narsisme saya tertuang disini.
Kini biarkan saya melihat lagi hal lain.

'waktu' menjadi kawan saya sekarang, angin menyampaikan kabar kegelisahkan yang terbukti bertahun belakang. Kumohon sekarang ada yang lebih peduli dari sekedar waktu.

Saya menulis ini sedang mengingatkan diri saya sendiri, anda boleh juga introspeksi. Indonesia butuh lagi tata krama teman!, butuh lagi tepa sliro dan semua kata yang menjadi tagline pelajaran PPKN. Benar! Segala kesialan ini berdampak pada hancur perlahannya negara yang kita cintai.

Ada satu kalimat yang samar2 terdengar dari pengeras suara mesjid, sang Da'i bilang, percaya kah bahwa bagaimana kita memperlakukan diri juga sama memperlakukan alam. Bahkan dengan jelas beliau menyebut bahwa 1 dari 10 sebab gempa adalah istri yang membangkang pada suami, di hari lain dia juga menyebutkan pemakaian parfum dapat menyebabkan banjir(tak begitu jelas soal banyak, atau jenis, niat dsb). Mungkin yang merasakannya justru tanah lain yang tak kita pijak. ya.. saya jadi ingat ada puisi sufi bertutur : kamu kira kamu hanya jasad kecil saja. Padahal pada dirimu terkandung alam semesta.

Pers asing dan acara asing sudah mulai kembali keakar, mereka galakkan lagi sopan santun, silaturahmi sesama manusia,, bahkan mendahulukan ibu, saling menolong yang ternyata tak pernah merugikan. Belum dengan gaya hidup mereka lebih green : pakai sepeda, bawa tas belanja sendiri, mengurangi plastik dsa. Hei ternyata itu tak asing buat kita, indonesia jaman dulu berarti jauh lebih maju bila melihat dengan konteks kacamata kekinian.

Percaya atau tidak di luar negeri 'latah' sedang jadi fenomena di acara2 televisi , buat kita? Tak lebih dari guyonan dan kita sudah menduhului bahkan sejak mak uwok copot eh copot-copot. Bersiaplah semua mata akan menuju pada budaya timur......

Kamis, Februari 14, 2008

Bandungan

Bandung waktu saya nulis ini suhunya mungkin 20 kurang, percaya saja waktu saya bilang jam 12 siang. rencananya mau liar ke dago atas diurungkan berhubung kulit saya belum setebal polarbear, dingiiiii....iiin.

saya memang tak bisa hidup di suhu lebih panas dari 34 derajat itu juga yang jadi alasan saya betah di Bandung, satu kesempatan saya pernah pergi ke Karawang yang tak seberapa jauh dan kulit saya langsung gatal2 mungkin kena tampak. akhirnya ibukota jakarta pun tak pernah menyilaukan mata untuk ikut bertarung nasib kesana.

namun sekarang-sekarang ini saya sedang tak betah di bandung, maaf anda salah kalau menyangka macet dan gersang menjadi biang kerok. saya menganggap hal itu wajar buat kota satelit dan terbukti mendatangkan pendapatan sektor pariwisata.

lalu apa

saya sedih kepada anak muda Bandung yang kelewat kreatif. memang kreatif adalah darah yang musti mengalir di kota ini. inovasi di bidang makanan, musik bahkan seniman aneh bandung memang gudangnya. Bandung menawarkan kesenangan tiada tara dan kesyahduan yang tak terkira. kalau kata ustad terkenal menilai Bandung adalah kota dimana perbuatan haram seinternasional bahkan bermula dari sini dan kedalaman religi juga berasal dari sini.

namun kesenangan dan hiburan itu mulai meminta korban nyawa, IPDN dengan kesenangan mengkader sudah basi. yang terbaru tentang dunia musik underground yang menelan hampir 10 nyawa. dan yang terbaru justru mafia bisnis striptease di kota yang menurut walikota tahun 2010 akan bebas maksiat.

saya bukan orang tepat untuk menilai apalagi menghakimi, hanya merasa sayang kesenangan itu harusnya tidak merugikan. saya menolak metropolitan.

adakah kota lain yang mau menapung saya..... hiks....

Senin, Februari 04, 2008

hail to Abas

Anak Baik And Soleh begitu dia mengartikan namanya, padahal bukan itu nama aslinya. Kita sih meyakini saja bahwa bass adalah alat musik yang dia pegang karena memang penampilannya Rock sekali.

Bukan itu yang menjadi alasan kenapa akhirnya saya membuat post tentang dia, padahal saya jarang menulis tentang seseorang dalam blog ini. Saya menulis tentang abas karena dia konyol, lucu, kreatif bahkan lebih kreatif ngabodor sunda seperti idola saya 'de Bodor'.

Abas adalah adik kelas saya di KKN, kerjaannya ga lain cuman melucu, dan kita juga tak mengharapkan dia melakukan hal lain. Dalam satu kesempatan gadis-gadis SMA lewat dia nyeletuk 'ke cicaheum naek mobil pink, ehem yang baju pink!'.

Itu belum seberapa ketika rapat serius ada orang yan g bertanya tentang kegiatan hari itu pada korlap 'urang teu ngarti'eh dia cuek banget mengjawab 'teu ngarti? Teungarkeun kana roti! Teu ngartos? Teungarkeun kana artos tapi daek urang mun teungarkeun kana artos!' sontak seisi rapat terpingkal karena kelakukan dia.

Sekalinya dia serius dia mengajak berbisnis begini katanya (aslinya dalam suda kasar)
“toblerone di pasaran berapa sih?”
“sekitar 10 rebuan lah” teman cowok menimpali
“mau ga bisnis ama saya?”
orang-orang hening bingung menimpali
“saya punya temen yang supplier tobrerone harganya murah cuman 5000”
“waduk!” kata temen cowok yang lain
“serius!”
“expire mungkin” temenku cewek mulai penasaran
“enggak! Masih baru”
“barang reject ya...” temenku cewek mulai menangkap peluang bisnis betulan
“bukan, masih baru, barangnya bagus, bahkan temen-temen saya pada mau tuh mesen”
“gimana caranya” entah siapa yang bilang tapi akhirnya tergoda juga.
“adanya yang rasa kacang biarin?”
“ga masalah” ada yang nyeletuk lagi
“TAPI KACANGNYA KACANG PANJANG!!!!” semua tertawa tanpa kecuali palagi saya...
eh dianya menjawab sendiri joke-nya dia “ heu-euh da karedok!!”


saya punya puluhan cerita konyol tentang anak ini, dan merasa duh sayang banget jadi anak band coba jadi pelawak. andai KKN masih lamanya setahun saya bisa kurus ketawa mulu deket2 dia.
Hei ABAS kalau membuka fansclub saya sudah mengantri dari dulu...

Sabtu, Januari 05, 2008

satu peluru dua target

BINTANGIN
sedang ingin bahas itu, karena sudah tidak relevan lagi. Dia melakukan kesalahan paling fatal di dunia kreativitas, yaitu mengulangi ide yang sama untuk 2 kali penayangan. Iklan ini lucunya justru saat pertama kali keluar. Bintangin mulai tidak peka malah terkesan keluar dari persaingan dan mengakui kehebatan Tolak Angin.


Harusnya bintangin lebih berani dan belajar pada Teh Botol Sosro, dengan satu tagline apapun makanannya minumnya teh Botol Sosro mereka berani mengeluarkan lebih dari 4 versi, mulai dari 'makan ati', 'rantai makanan' juga kuda lumping' bahkan sebelumnya ada iklan yang slice of life gitu. Menembak dua sasaran dengan satu tujuan sudah rahasia umum pasti gagal.


Tolak angin sekarang bukan lagi pintar tapi jenius. mereka pakai isue terhangat paling megang tahun ini yaitu pencurian karya oleh malaysia, lalu endorsernya Agnes Monica, pakai unsur politik segala biar bisa dilirik pemerintah, dan hebatnya lagi mereka pakai Butet Kertaredjasa yang memang seorang seniman yang mempunyai 'kekuatan mengajak' lewat suaranya dan mungkin mereka cari aman juga karena dengan begitu Butet pasti tak banyak berkoar dengan cara parodi tentang hal curi-mencuri ini.


Sebelumnya saya bilang terhibur, untuk iklan yang kedua saya bilang kecewa sekali.

resolusi bukan untuk tereksekusi

Sebelum baca habis blog ini ku anjurkan baca post sebelumnya dan kecewalah karena itu bukan saya sekarang.


saya tak akan menyangkal bagaimana skripsi saya sebelum seminar usulan penelitian diberikan banyak kemudahan hampir mirip mukjizat. Namun setelahnya saya baru tahu pressure yang sebenarnya baru saja terjadi. Seperti tak sanggup menghadapi ini semua antara skripsi, kewajiban mulang pada orang tua, jadi anak manis atau berdiri idealis. Duh pilihan dancing out itu menggoda mata, andai tahu dimana kampus DOI tepat detik ini ingin kutancap motor bergegas pergi kesana untuk mendaftarkan diri.


Saya tertekan, tapi entah bercerita pada siapa, andai tak kupilih jalan taaruf mungkin saya akan berlari ke pelukan kekasih, berbicara dengan terburu-buru seolah napas akan berhenti saat itu dan menceritakan apa yang rasanya membuat dada jadi sesak begini, atau menangis termehe-mehe menunggu untuk dibelai atau ditenangkan hati atau aku bahkan akan memintanya tolong bawa saya pergi kemana saja. Kemana saja.


Tapi saya begitu kenal diri ini langkah diatas hanya ada di negeri awan , palingan saya akan berlari ke mesjid yang pertama terlintas di kepala membaca alquran, tidur seharian disana dan pulang sehabis maghrib. Atau pergi ketempat dimana saya menghabiskan bayak waktu diantara tumpukan buku di tempat terindah : Tea-house. Dan saya tak mungkin mengingkari tekad, keputusan langkah ataupun serapah yang sudah keluar dari mulut sendiri jadi harga mati, pepatah tabu menjilat ludah sendiri begitu kuatnya. dan bodohnya semua keputusan itu berisi hal yang ternyata merugikan diri sendiri.


Semenjak merubah total hidup saya sejak kurang lebih lima tahun lalu bersamaan dengan dipakainya jilbab, semuanya jadi tambah berat bahkan saya tak lagi banyak curhat, bergosip atau melakukan hal yang kebanyakan perempuan normal lakukan. Saat itu saya merasa tipis beda antara curhat dengan menjelek-jelekkan orang, dan kurang bersyukur. Taruhan, anda yang membaca saja pasti tak mengerti apa yang sedang saya bicarakan, atau tentang siapa, semua terlalu bertumpuk atau saya terlalu rapih menutupinya.


Dengan begini saya memulai tahun baru 2008, entah dalam artian positif ataupun negatif.