Sabtu 17 Oktober 2009, seandainya ada ember untuk menampung air mata maka itu tak cukup.
Jiwa saya terguncang dan terbangun sekaligus. Pagi hari saya menjenguk kerabat yang memanggil saya teh neng, umurnya baru sebelas namun operasi yang dilakukan udah kedua kali dan melihat selang, perban, jarum yang menempel ditubuhnya siapa yang tahan menahan air mata??.
santai saja dia berkelakar tentang tidurnya yang jadi ngorok gara2 dibius.. atau bilang bahwa operasi 2 jam seperti 2 menit. bisa dibayangkan bagaimana ibunya menanggung hari melihat anak yang setiap pusing harus mengeluarkan cairan lewat pipa yang terbentang panjang di tubuhnya, menderita hydrocephalus bukan keinginan seorang ibu manapun.
Masih dengan sendu yang sama, sorenya tangan ini, betul tangan saya... harus memegang bayi yang beratnya hanya 1.8 Kg!!! saya pernah menimbang ayam broiler yang beratnya lebih dari itu...
tangan, kaki bergetar padahal itu bukan kali pertama memandikan bayi. khusus bayi ini saya bersihkan pakai baby oil. membersihkan kepalanya keringat membanjiri tubuh karena takut tiba-tiba nyawa menghilang, kasus terakhir bayi di bawah 2 kilo tak ada yang selamat. Hanya kebesaran Allah membuat sang bayi sehat bahkan aktif.
membersihkan kakinya air mata menetes... membersihkan tangannya yang tak lebih besar dari spidol whiteboard membuat tangan saya seperti kehilangan tulang.. Ya Allah kecil sekali... seharian itu saya seperti baru putus dari kekasih yang dicinta, kelelahan yang mendekati lari 10 putaran gasibu. nyatanya saya yang kecil, kecil di matamu ya Allah
Begitulah.. Allah menciptakan keajaiban justru dari malaikat bernama anak kecil. namun anehnya kedua anak kecil ini mendekatkan keinginan saya untuk segera memilikinya, untuk itu tentu harus menikah. kabar baik, sekarang sepertinya saya siap menikah disegerakan!. Atau bisa toh punya anak tanpa menikah? bukan MBA tapi mengadopsi, semoga nanti saya dititipi anak yang soleh walaupun tak selalu lahir dari rahim sendiri. punya anak yatim misalnya.
Selasa, Oktober 20, 2009
Minggu, Agustus 23, 2009
Invisible Hand

Ramadhan kali ini dimulai hari sabtu tanggal 22 Agustus 2009/ 1 Ramadhan 1430H
Entah karena apa, yang pasti Ramadhan kali ini saya gembira luar biasa. kalau saya sebut sepanjang hari loncat2 bak anak kecil... percayalah itu memang yang terjadi.
saya menduga kebahagiaan saya lahir karena telah melewati sebuah fase berat beberapa waktu sebelumnya, atau justru karena saya baru bertemu seseorang? tak tahulah saya tak pintar membaca hati. Kebahagiaan saya tak tergambarkan bukannya kebahagiaan khas seperti yang digambarkan Artikle2 Islam mengenai ganjaran besar bagi umat yang menyambut bahagia bulan Ramadhan. tapi kebahagiaan yang lucu.. yang magis.. yang identik dengan orang kasmaran namun bukan..
oh iya saya punya cerita yang tak terjangkau akal sehat, namun sampai sekarang membuat saya memuji kebesaran Tuhan. Saya mengajak anda merenung melewati sebuah peristiwa tanpa ada maksud lain. jadi saya sepenuhnya tak meridhoi semua tanggapan yang muncul selain niat itu setelah membaca peristiwa ini.
Alhamdulillah belum lama saya hatam lagi, tidak ada yang aneh kecuali harinya. maghrib bulan syaban saya membaca qur'an sudah sampai surat Al-Ashr. itu berarti ada sekitar 11 surat pendek lagi sebelum hatam. Ditengah2 ngaji surat itu mama menelepon, sebagai anak adalah kewajiban untuk sami'na wa atha'na. saya mendengar dan saya taat waktu bilang suruh menghampiri mama.
Dalam hati saya gemes karena tinggal membaca beberapa surat maka saya hatam. tapi saya singkirkan pemikiran tersebut, saya akhiri bacaan saya dengan terjemahan dan Asmaul Husna.
Subuh akhirnya bacaan Al-qur'an saya tamat juga. membaca doa hatam qur'an dan bersyukur sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor lengkap dengan jalan sambil loncat2 (curiga lahir dari kelinci nih).
Belum juga selesai dengan takjub yang sama, tengah hari kakak mengabarkan saya di beri Handphone baru! sesuatu yang sedang saya ingin dan tak seorangpun tahu. Mengikuti teori sedekah Yusuf mansur mending saya jual saja tu Handphone.
Saya merinding luar biasa... karena sepanjang ingatan saya yang pendek ini, apa yang saya tidak harapkan justru saya dapatkan. Otomatis mindset saya diubah begitu selamanya. jangan mengharapkan sesuatu... Ikhlas saja..
Jangan ragukan setiap kebaikan sekecil apapun. termasuk membaca Al-quran. Lawan setiap kemalasan, paksakan diri untuk beribadah sendainya memang harus. Saya masih melakukan ini untuk beberapa ibadah. saya yakin ibadah Anda lebih taat.
Saya lihat kalender... meerinding lagi! hari itu adalah Jum'at 15 Sya'ban, barus saja saya berbuka dari puasa Auyumul Bidh yang kebetulan juga nisfu Sya'ban... kulihat langit bulan purnama bulat sempurna..
di Sya'ban saja saya menemui banyak mukjizat... tak sabar saya menanti apa yang akan terjadi saat Ramadhan kali ini.
Jumat, Agustus 14, 2009
Out Of The Box, Out Of Comfort Zone
Waktu saya nulis ini, adalah hari terakhir saya kerja di Unit Publikasi Ilmiah dan Paten Sekretariatan Majalah Kedokteran Bandung Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Sebuah keputusan berat saya harus ambil berikutnya. Ada banyak orang bertanya mengapa saya keluar dari ‘kursi aman’?? saya memilih diam karena mulut biasanya suka melebih-lebihkan sesuatu. Biarlah setiap alasan menjadi rahasia dan ibadah saya
Karena pengalaman ini akan membekas, saya akan menulisnya disini. Selama disini saya belajar banyak, hard skill sudah dibekali di kampus namun softskill benar-benar mulai dari nol. Awal kerja saya hilang kepribadian bahkan kehilangan rutinitas ibadah. Butuh dua bulan akhirnya saya jadi diri sendiri.
Saya percaya pada kebesaran Allah, itu sebabnya dari SANA munculnya keyakinan tidak memperpanjang bekerja di MKB. Untuk diketahui bahwa kerja disini adalah terwujudnya mimpi kira-kira 2003/2004. Dulu saya bermimpi kerja di Majalah apapun, maka lamaranpun dikirim ke banyak majalah mulai lokal sampai nasional. Dari banyak lamaran tak ada satupun yang nyangkut. Dari situ saya peti es-kan dulu mimpi ini seiring dengan kuliah saya yang berganti jurusan, malah saya sudah berhenti mengkhayalkan pekerjaan spesifik. Dan demikianlah Allah bekerja justru ketika saya berhenti dan pasrah saya malah mendapatkannya dengan cara yang dipermudah. Semula saya pikir akan ditawari bekerja jadi sekretaris salah satu dokter disini eh justru dapat pekerjaan hebat ini.
Saya tak bisa lagi bicara banyak takutnya membicarakan hal yang tak perlu dan dekat dengan ghibah. Saya akan masuk pada inti tulisan ini yaitu mengucapkan terimakasih kepada:
Prof. Sofie R.K., beliau adalah wanita dengan tinggi ilmu namun rendah hati. Kadang pemikirannya memang tak terjangkau, Kedermawanan dan kecerdasannya menginspirasi saya.
Prof. Herry Garna, saya sering dibuat kagum dengan ketelitian beliau. Jangan harap ada titik dan spasi yang luput dari koreksinya.
Dr. Budi Setiabudiawan, saya berhubungan langsung dengan beliau waktu pertama datang. Jadi bisa dikatakan atas rekomendasi beliau pula saya di pekerjakan.
Teh Lala, bos paling gila sepanjang masa. Mau becanda dari arah mana dia sanggup ngimbangin. Namun kadang ‘sima’-nya keluar, itu juga mungkin yang membuat jabatan mendekat padanya.
Teh Maya, perempuan cantik dan fashionable yang mengantar saya sebagai rekomendasi untuk bekerja di MKB
Teh Dini, Tanyakan segala hal mengenai dunia kecantikan beliau mengetahuinya.
Kang Ede, satu-satunya lelaki baik hati (Karena jarang marah sering kita godain) yang megang banyak job desc. Gelarnya kadang suka saya plesetin macem-macem.
Seluruh rekan di FK yang tak bisa disebut satu-satu
Tak ada satupun kata sebenarnya yang menggambarkan bagaimana saya berhutang banyak terimakasih pada kantor ini. Lihat hati kadang masih ingin disana, tapi perjalanan belum selesai saya harus terbang lagi entah kemana. Mimpi saya masih banyak, profesi yang harus saya rasakan masih tak terhitung dan kesemuanya saya serahkan pada Allah Aza Wa Jalla. Sama seperti halnya saya tak pernah menyangka bekerja disini saya akan menunggu keajaiban lain yang mungkin Allah berikan di tempat lain, kuharap lebih baik.
Terimakasih atas perhatian dan kerjasama yang baik....
Karena pengalaman ini akan membekas, saya akan menulisnya disini. Selama disini saya belajar banyak, hard skill sudah dibekali di kampus namun softskill benar-benar mulai dari nol. Awal kerja saya hilang kepribadian bahkan kehilangan rutinitas ibadah. Butuh dua bulan akhirnya saya jadi diri sendiri.
Saya percaya pada kebesaran Allah, itu sebabnya dari SANA munculnya keyakinan tidak memperpanjang bekerja di MKB. Untuk diketahui bahwa kerja disini adalah terwujudnya mimpi kira-kira 2003/2004. Dulu saya bermimpi kerja di Majalah apapun, maka lamaranpun dikirim ke banyak majalah mulai lokal sampai nasional. Dari banyak lamaran tak ada satupun yang nyangkut. Dari situ saya peti es-kan dulu mimpi ini seiring dengan kuliah saya yang berganti jurusan, malah saya sudah berhenti mengkhayalkan pekerjaan spesifik. Dan demikianlah Allah bekerja justru ketika saya berhenti dan pasrah saya malah mendapatkannya dengan cara yang dipermudah. Semula saya pikir akan ditawari bekerja jadi sekretaris salah satu dokter disini eh justru dapat pekerjaan hebat ini.
Saya tak bisa lagi bicara banyak takutnya membicarakan hal yang tak perlu dan dekat dengan ghibah. Saya akan masuk pada inti tulisan ini yaitu mengucapkan terimakasih kepada:
Prof. Sofie R.K., beliau adalah wanita dengan tinggi ilmu namun rendah hati. Kadang pemikirannya memang tak terjangkau, Kedermawanan dan kecerdasannya menginspirasi saya.
Prof. Herry Garna, saya sering dibuat kagum dengan ketelitian beliau. Jangan harap ada titik dan spasi yang luput dari koreksinya.
Dr. Budi Setiabudiawan, saya berhubungan langsung dengan beliau waktu pertama datang. Jadi bisa dikatakan atas rekomendasi beliau pula saya di pekerjakan.
Teh Lala, bos paling gila sepanjang masa. Mau becanda dari arah mana dia sanggup ngimbangin. Namun kadang ‘sima’-nya keluar, itu juga mungkin yang membuat jabatan mendekat padanya.
Teh Maya, perempuan cantik dan fashionable yang mengantar saya sebagai rekomendasi untuk bekerja di MKB
Teh Dini, Tanyakan segala hal mengenai dunia kecantikan beliau mengetahuinya.
Kang Ede, satu-satunya lelaki baik hati (Karena jarang marah sering kita godain) yang megang banyak job desc. Gelarnya kadang suka saya plesetin macem-macem.
Seluruh rekan di FK yang tak bisa disebut satu-satu
Tak ada satupun kata sebenarnya yang menggambarkan bagaimana saya berhutang banyak terimakasih pada kantor ini. Lihat hati kadang masih ingin disana, tapi perjalanan belum selesai saya harus terbang lagi entah kemana. Mimpi saya masih banyak, profesi yang harus saya rasakan masih tak terhitung dan kesemuanya saya serahkan pada Allah Aza Wa Jalla. Sama seperti halnya saya tak pernah menyangka bekerja disini saya akan menunggu keajaiban lain yang mungkin Allah berikan di tempat lain, kuharap lebih baik.
Terimakasih atas perhatian dan kerjasama yang baik....
Kamis, Juli 30, 2009
Basa Inggris oh So' Limited
Beberapa hari yang lalu saya mendapat pesan singkat dari sahabat yang meminta dukungan SMS untuk kakaknya karena menjadi finalis Duta Bahasa.
Konon Bangsa Indonesia mempunyai masalah dengan berbahasa Inggris. Sepertinya benar, ingatkah ajang Miss Universe dimana Indonesia mempunyai wakil dan kesempatan untuk promosikan negaranya. ketika saatnya datang, putri yang konon tercantik di Indonesia saat itu (Nadine Chandrawinata) santai saja bilang “Indonesia is Beautiful City” WHAAAAT??? Mesti diingat putri Indonesia dipilih tidak sembarangan dikarantina dengan guru2 terbaik bangsa. Ya.. kupikir benar kini mulai saatnya membiasakan diri berbahasa Inggris
Di rumah saya biasa bicara Bahasa Inggris Garut dengan kakak, di kantor kebiasaan itu berlanjut (malah lebih parah) dengan rekan sekantor. Menyebut masuk angin=Enter Wind, panas dalam=Hot Inside, dan kata-kata lain yang memang tak ada atau tak bisa bahasa inggrisnya. Bahasa Inggris Garut adalah istilah orang sunda menyebut bahasa inggris yang kacau, Tanpa bermaksud menjelekkan kota dan orang Garut.
Saya tak pernah mengerti mengapa ada yang mengagungkan bahasa Inggris sebagai symbol status padahal bahasa Inggris adalah bahasa yang paling sederhana dan paling terbatas menjabarkan sesuatu. Hal ini baru saya sadari ketika baru saja membaca buku ISLAM (Faith-Culture-History)karya Paul Londe.
Hanya membutuhkan lima halaman sebelum akhirnya saya tangguhkan menyelesaikan bacaan karena isinya ‘berat sebelah’. Paling membuat saya kecewa adalah transelerasi Dia untuk Allah swt adalah He/Him. Padahal Allah bukan manusia berjenis kelamin laki-laki. Sebenarnya masuk akal sih karena Bahasa Inggris menyeratakan benda dengan It namun itu untuk kata benda dan tidak ada unsur penghormatan sekali, tak bisakah cukup dengan kata Allah saja kalau memang sulit dicari Bahasa Inggrisnya?. Semoga kelak saya menemukan Al-Quran dengan translate Inggris yang BENAR entah di belahan dunia mana.
Lalu saya teringat dengan topic yang pernah diangkat oleh harian Pikiran Rakyat bahwa ada ratusan bahasa dunia yang terancam punah, penjelasannya ada di sebuah buku tapi saya lupa judulnya. Dalam topic yang sama disuguhkan juga quotes dari seorang Duta Bahasa Indonesia saat itu katanya “Bahasa Indonesia kelak akan menjadi 4 Bahasa Terbesar di Dunia”.
Wajar bila nanti Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang besar dan penting dikuasai dunia mungkin setelah Bahasa Inggris, Mandarin. Penduduknya yang padat sudah mengidentifikasi hal tersebut. Dengan penduduk yang jumlah adubilah itu pastilah diantaranya ada yang ekspansi keluar negeri dan menikah yang secara otomatis membawa Bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu. Selain itu Indonesia mempunyai tutur bahasa yang lebih baku dan rapi dibandingkan dengan Negara serumpun malayu lainnya. Bahasa Indonesia tidak akan berubah arti meskipun berdiri sendiri-sendiri berbeda dengan Bahasa Inggris
Nasionalisme saya berkobar, Indonesia ternyata jauh lebih baik.Bahasa Indonesia diperkaya oleh banyak bahasa daerah yang punya tingkatan bahasa untuk menunjukkan rasa hormat baik umur maupun ilmunya. Untuk kata ‘Kamu’ dalam bahasa Sunda ada banyak tingkatan mulai dari sia-maneh-anjeun beda dengan English yang menyebut You, dan contoh lain beserta bahasa lainnya pasti anda lebih tahu.
Post ini bukan dimaksudkan untuk membenci bahasa Inggris melainkan justru harus mengenal. Hal yang paling tidak bisa orang Indonesia lakukan adalah belajar bicara bahasa Inggris. Kita harus memulainya untuk meningkatkan kualitas bangsa di mata dunia (walupun ala Garut) toh di Singapura juga Bahasa inggrisnya tidak fasih benar, oleh sebab itu disebut Singlish. Maka sebutan untuk Bahasa Inggris ala Indonesia adalah Indlish atau untuk Sunda English jadi Sunlish or Garlish…
Sekian explanation dari sayah, Hatur Thank U…
Konon Bangsa Indonesia mempunyai masalah dengan berbahasa Inggris. Sepertinya benar, ingatkah ajang Miss Universe dimana Indonesia mempunyai wakil dan kesempatan untuk promosikan negaranya. ketika saatnya datang, putri yang konon tercantik di Indonesia saat itu (Nadine Chandrawinata) santai saja bilang “Indonesia is Beautiful City” WHAAAAT??? Mesti diingat putri Indonesia dipilih tidak sembarangan dikarantina dengan guru2 terbaik bangsa. Ya.. kupikir benar kini mulai saatnya membiasakan diri berbahasa Inggris
Di rumah saya biasa bicara Bahasa Inggris Garut dengan kakak, di kantor kebiasaan itu berlanjut (malah lebih parah) dengan rekan sekantor. Menyebut masuk angin=Enter Wind, panas dalam=Hot Inside, dan kata-kata lain yang memang tak ada atau tak bisa bahasa inggrisnya. Bahasa Inggris Garut adalah istilah orang sunda menyebut bahasa inggris yang kacau, Tanpa bermaksud menjelekkan kota dan orang Garut.
Saya tak pernah mengerti mengapa ada yang mengagungkan bahasa Inggris sebagai symbol status padahal bahasa Inggris adalah bahasa yang paling sederhana dan paling terbatas menjabarkan sesuatu. Hal ini baru saya sadari ketika baru saja membaca buku ISLAM (Faith-Culture-History)karya Paul Londe.
Hanya membutuhkan lima halaman sebelum akhirnya saya tangguhkan menyelesaikan bacaan karena isinya ‘berat sebelah’. Paling membuat saya kecewa adalah transelerasi Dia untuk Allah swt adalah He/Him. Padahal Allah bukan manusia berjenis kelamin laki-laki. Sebenarnya masuk akal sih karena Bahasa Inggris menyeratakan benda dengan It namun itu untuk kata benda dan tidak ada unsur penghormatan sekali, tak bisakah cukup dengan kata Allah saja kalau memang sulit dicari Bahasa Inggrisnya?. Semoga kelak saya menemukan Al-Quran dengan translate Inggris yang BENAR entah di belahan dunia mana.
Lalu saya teringat dengan topic yang pernah diangkat oleh harian Pikiran Rakyat bahwa ada ratusan bahasa dunia yang terancam punah, penjelasannya ada di sebuah buku tapi saya lupa judulnya. Dalam topic yang sama disuguhkan juga quotes dari seorang Duta Bahasa Indonesia saat itu katanya “Bahasa Indonesia kelak akan menjadi 4 Bahasa Terbesar di Dunia”.
Wajar bila nanti Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang besar dan penting dikuasai dunia mungkin setelah Bahasa Inggris, Mandarin. Penduduknya yang padat sudah mengidentifikasi hal tersebut. Dengan penduduk yang jumlah adubilah itu pastilah diantaranya ada yang ekspansi keluar negeri dan menikah yang secara otomatis membawa Bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu. Selain itu Indonesia mempunyai tutur bahasa yang lebih baku dan rapi dibandingkan dengan Negara serumpun malayu lainnya. Bahasa Indonesia tidak akan berubah arti meskipun berdiri sendiri-sendiri berbeda dengan Bahasa Inggris
Nasionalisme saya berkobar, Indonesia ternyata jauh lebih baik.Bahasa Indonesia diperkaya oleh banyak bahasa daerah yang punya tingkatan bahasa untuk menunjukkan rasa hormat baik umur maupun ilmunya. Untuk kata ‘Kamu’ dalam bahasa Sunda ada banyak tingkatan mulai dari sia-maneh-anjeun beda dengan English yang menyebut You, dan contoh lain beserta bahasa lainnya pasti anda lebih tahu.
Post ini bukan dimaksudkan untuk membenci bahasa Inggris melainkan justru harus mengenal. Hal yang paling tidak bisa orang Indonesia lakukan adalah belajar bicara bahasa Inggris. Kita harus memulainya untuk meningkatkan kualitas bangsa di mata dunia (walupun ala Garut) toh di Singapura juga Bahasa inggrisnya tidak fasih benar, oleh sebab itu disebut Singlish. Maka sebutan untuk Bahasa Inggris ala Indonesia adalah Indlish atau untuk Sunda English jadi Sunlish or Garlish…
Sekian explanation dari sayah, Hatur Thank U…
Jumat, Juli 10, 2009
Tantangan Bukan untuk Pengecut
Dari banyak keputusan maka keputusan yang baru saya ambil 2 minggu lalu adalah keputusan paling polemik. Satu sisi saya menyukainya sisi lain banyak tantangan (cercaan?) mesti segera dilalui.
Disini pekerjaannya main hati, melenceng sedikit dari niat bukan tak mungkin status riya disandangkan di belakang nama.
sama halnya seperti memutuskan memakai jilbab sekitar 5 tahun lalu, kesiapannya hanya 50% sisanya tantangan. Diawal memakai jilbab masih sekedar pakai tingkah laku tak banyak beda. lama-lama ya prosesnya mengerucut dengan sendirinya. Berubah dengan banyak masukan dari teman.
Ini pun begitu, rasanya saya belum menggambarkan apa yang saya tulis. sekedar membaca, mengunduh lalu publish yakinlah bahwa semua orang bisa melakukannya, tapi menyesuaikantingkah laku?.
Akhirnya saya berharap perlahan ibadahku membaik. Setidaknya ada waktu dalam hari-hari saya pernah mengajak pada kebaikan. Biarlah kata-kata buruk dan keraguan dari orang lain menjadi kenikmatan pahala untukku.
Kamis, Juni 25, 2009
C.L.B.K yang Menistakan Rumah Tangga
CLBK( Cinta Lama Bersemi Kembali) termasuk salah satu kasus penyebab retaknya rumah tangga. Sampai post ini ditulis saya sudah mendengar langsung (dan paling anti menceritakan apa yang tidak terinderakan sendiri) kasus perceraian dan menjelang perceraian disebabkan oleh CLBK. Bila sekarang saya tulis disini tak ada sedikitpun untuk bergunjing atau menghina-hina diatas penderitaan, saya mengajak anda belajar dari pengalaman mereka.
Kasus 1: adalah seorang pria Jakarta kerja di luar Jawa semenjak bujang, jatuh cinta dan menikah dengan orang sana. 10 tahun perkawinan bahagia menghasilkan 3 orang anak. Biduk rumah tangga pecah sekalian dalam 1 tahun di 2008 dengan satu pengakuan menyakitkan bahwa sang istri mencintai sang mantan kekasih dan memilih bercerai demi cinta lama yang menuntut penyelesaian. Kini sang Pria kerja keras menstabilkan hidupnya yang porak poranda, berlagak tidak stress lewat hura-hura. Nyatanya bukan dia yang menderita tapi juga anak-anak. Pemisahan anak yang semula didasarkan atas keadilan dan rasa sayang terakhir justru diberikan semua pada sang istri karena pria ini tidak tega melihat penderitaan anak. TRAGIS… sang pria yang kebetulan temanku entah apa yang berkecamuk dalam hatinya bila malam datang, pastinya pria ini bukanlah bajingan yang menganggap hilangnya 10 tahun perkawinan, 3 anak, dan penghidupan mapan sama seperti hilangnya upil atau uang recehan.
Kasus 2: seorang Ikhwan (moga anda mengerti mengapa saya tak menyebut pria/lelaki) menikah 2-3 tahun entahlah saya lupa persisnya. Si ikhwan ini karena aktivitasnya di luar rumah lebih banyak dengan seorang perempuan membuktikan bahwa benar adanya cinta bisa muncul karena terbiasa bahkan si ikhwan ini berniat menikahinya dan sang perempuan tak keberatan menikah siri selama proses cerai dengan sang istri berlangsung. Dari situ dia selalu merasa sang istri jauh lebih jelek dari perempuan ini, merasa bahwa sang istri kurang bisa melayaninya, dengan alasan itulah sang ikhwan akan menceraikannya. Kelanjutannya saya sudah tak ingin tahu karena kadung muak dengan keegoisan sang ikhwan ini. Lalu dari mana saya bisa memutuskan dia ikhwan yang egois? Saya sengaja tak menuliskannya diawal agar penilaian tetap netral, entahlah kalau dari pertama saya bilang “si ikhwan dulu memutuskan menikah karena sakit hati ditinggal mantan kekasih!”. Kudoakan mereka tak jadi bercerai dan usai sudah perselingkuhan itu.
Sebagai perempuan yang masih lajang saya belajar banyak dari kasus 2. Sebaiknya ketika seseorang memutuskan untuk menikah maka lepas dari semua kisah indah di masa lalu, saya menyebutnya keadaan ‘tenang’. Baik tenang saat menerima pinangan, dan tenang karena tidak ada hutang dengan masa lalu.
Tanyakan pada diri anda, ada berapa cinta pernah singgah dan masih berkesan dalam hati anda sebelum menikah? Dan untuk yang masih single pertanyaannya lebih rumit, ada berapa cinta yang belum selesai kandas tak bersisa?. Kalau jawabannya ‘masih banyak’ maka anda harus masuk program “membersihkan otak dari cinta dan kenangan masa lalu”. Program yang ada dalam khayalan yang profesinya sedang saya khayalkan juga jurusannya dalam perguruan tinggi.
Cinta tak pernah dikenal dalam Islam. Menikah adalah sekolah menumbuhkan cinta (mengunduh dari blog orang). Itu sebabnya pacaran dalam Islam termasuk zinah dan ada cara-cara yang diatur yang disebut dengan taaruf. Ada yang menyebut taaruf penuh dengan resiko, pemaksaan dan buat kaum hedonis mungkin terkesan menderita. Terserah pendapat anda tapi saya memilih ini untuk menentukan jodoh. Alasannya sudah saya jelaskan di atas bahwa cinta memang menuntut penyelesaian, pengakuan, penyatuan.
Cinta menuntut penyelesaian, untuk hubungan yang mungkin sudah selesai dianggap selalu belum selesai selama keduanya belum bahagia baik bersama maupun terpisah, jangan salah ketika memang tak bahagia sekalipun cinta tetap menuntut penyelesaian, jujur hal ini buat otakku runyem karena begitu absurdnya.
Cinta menuntut pengakuan padahal tak ada yang harus diakui misalnya, oknum cinta akan berbuat ganas sekaligus sadis. Bahkan ketika sang kekasih sudah berpasangan pengakuan tetap dituntut walau dengan harga perselingkuhan, otakku makin pusing tak mengerti.
Cinta menuntut penyatuan, sudahlah ini perginya ke hasrat alami manusia. Bahasa Arab menyebutnya dengan Hayawaniah=Hewani. Demi hasrat yang ini puluhan anak gadis kehilangan keperawanan, jutaan anak lelaki menjadi dewasa sebelum waktunya kalau tak ada keimanan yang tebal Cinta yang ini takkan pernah terpuaskan, semacam candu dia ketagihan, semacam petualang dia mencari alam yang belum terjamah. Sekarang otak saya serasa tambah berat dengan teori ngawur yang saya ciptakan sendiri ini.
Saya sedang menentukan sikap, kusudahi semua cinta yang pernah datang padaku. Takkan kupilih cinta sebab tak ingin dituntut hal-hal yang remeh diatas. Saya menjamin tak akan lagi terpengaruh cinta lama, jangankan datang dengan menggoda cinta lama mengiba pun tak kan membuatku bergeming. Mengutip lagu peterpan “jangan tanyakan lagi cinta yang telah mati”. Saya sudah selesai dengan picture perfect, suamiku adalah cintaku kelak, dengannya kuharap saya bisa tambah khusyuk ibadah, sama2 berjuang di dunia untuk entah dia memilih siapa jodohnya di akhirat. Jodoh yang tentunya sudah sesuai dengan yang kita minta tanpa perlu keluar sepatah katapun.
“Jazaa’uhum Inda Robbihin Janatu adnin tajri min tahtihal anharu Kholidzina fihaa abadaa, radyallahu anhum waraddhu anhu dzalika liman Khasiya Rabbah”
Kasus 1: adalah seorang pria Jakarta kerja di luar Jawa semenjak bujang, jatuh cinta dan menikah dengan orang sana. 10 tahun perkawinan bahagia menghasilkan 3 orang anak. Biduk rumah tangga pecah sekalian dalam 1 tahun di 2008 dengan satu pengakuan menyakitkan bahwa sang istri mencintai sang mantan kekasih dan memilih bercerai demi cinta lama yang menuntut penyelesaian. Kini sang Pria kerja keras menstabilkan hidupnya yang porak poranda, berlagak tidak stress lewat hura-hura. Nyatanya bukan dia yang menderita tapi juga anak-anak. Pemisahan anak yang semula didasarkan atas keadilan dan rasa sayang terakhir justru diberikan semua pada sang istri karena pria ini tidak tega melihat penderitaan anak. TRAGIS… sang pria yang kebetulan temanku entah apa yang berkecamuk dalam hatinya bila malam datang, pastinya pria ini bukanlah bajingan yang menganggap hilangnya 10 tahun perkawinan, 3 anak, dan penghidupan mapan sama seperti hilangnya upil atau uang recehan.
Kasus 2: seorang Ikhwan (moga anda mengerti mengapa saya tak menyebut pria/lelaki) menikah 2-3 tahun entahlah saya lupa persisnya. Si ikhwan ini karena aktivitasnya di luar rumah lebih banyak dengan seorang perempuan membuktikan bahwa benar adanya cinta bisa muncul karena terbiasa bahkan si ikhwan ini berniat menikahinya dan sang perempuan tak keberatan menikah siri selama proses cerai dengan sang istri berlangsung. Dari situ dia selalu merasa sang istri jauh lebih jelek dari perempuan ini, merasa bahwa sang istri kurang bisa melayaninya, dengan alasan itulah sang ikhwan akan menceraikannya. Kelanjutannya saya sudah tak ingin tahu karena kadung muak dengan keegoisan sang ikhwan ini. Lalu dari mana saya bisa memutuskan dia ikhwan yang egois? Saya sengaja tak menuliskannya diawal agar penilaian tetap netral, entahlah kalau dari pertama saya bilang “si ikhwan dulu memutuskan menikah karena sakit hati ditinggal mantan kekasih!”. Kudoakan mereka tak jadi bercerai dan usai sudah perselingkuhan itu.
Sebagai perempuan yang masih lajang saya belajar banyak dari kasus 2. Sebaiknya ketika seseorang memutuskan untuk menikah maka lepas dari semua kisah indah di masa lalu, saya menyebutnya keadaan ‘tenang’. Baik tenang saat menerima pinangan, dan tenang karena tidak ada hutang dengan masa lalu.
Tanyakan pada diri anda, ada berapa cinta pernah singgah dan masih berkesan dalam hati anda sebelum menikah? Dan untuk yang masih single pertanyaannya lebih rumit, ada berapa cinta yang belum selesai kandas tak bersisa?. Kalau jawabannya ‘masih banyak’ maka anda harus masuk program “membersihkan otak dari cinta dan kenangan masa lalu”. Program yang ada dalam khayalan yang profesinya sedang saya khayalkan juga jurusannya dalam perguruan tinggi.
Cinta tak pernah dikenal dalam Islam. Menikah adalah sekolah menumbuhkan cinta (mengunduh dari blog orang). Itu sebabnya pacaran dalam Islam termasuk zinah dan ada cara-cara yang diatur yang disebut dengan taaruf. Ada yang menyebut taaruf penuh dengan resiko, pemaksaan dan buat kaum hedonis mungkin terkesan menderita. Terserah pendapat anda tapi saya memilih ini untuk menentukan jodoh. Alasannya sudah saya jelaskan di atas bahwa cinta memang menuntut penyelesaian, pengakuan, penyatuan.
Cinta menuntut penyelesaian, untuk hubungan yang mungkin sudah selesai dianggap selalu belum selesai selama keduanya belum bahagia baik bersama maupun terpisah, jangan salah ketika memang tak bahagia sekalipun cinta tetap menuntut penyelesaian, jujur hal ini buat otakku runyem karena begitu absurdnya.
Cinta menuntut pengakuan padahal tak ada yang harus diakui misalnya, oknum cinta akan berbuat ganas sekaligus sadis. Bahkan ketika sang kekasih sudah berpasangan pengakuan tetap dituntut walau dengan harga perselingkuhan, otakku makin pusing tak mengerti.
Cinta menuntut penyatuan, sudahlah ini perginya ke hasrat alami manusia. Bahasa Arab menyebutnya dengan Hayawaniah=Hewani. Demi hasrat yang ini puluhan anak gadis kehilangan keperawanan, jutaan anak lelaki menjadi dewasa sebelum waktunya kalau tak ada keimanan yang tebal Cinta yang ini takkan pernah terpuaskan, semacam candu dia ketagihan, semacam petualang dia mencari alam yang belum terjamah. Sekarang otak saya serasa tambah berat dengan teori ngawur yang saya ciptakan sendiri ini.
Saya sedang menentukan sikap, kusudahi semua cinta yang pernah datang padaku. Takkan kupilih cinta sebab tak ingin dituntut hal-hal yang remeh diatas. Saya menjamin tak akan lagi terpengaruh cinta lama, jangankan datang dengan menggoda cinta lama mengiba pun tak kan membuatku bergeming. Mengutip lagu peterpan “jangan tanyakan lagi cinta yang telah mati”. Saya sudah selesai dengan picture perfect, suamiku adalah cintaku kelak, dengannya kuharap saya bisa tambah khusyuk ibadah, sama2 berjuang di dunia untuk entah dia memilih siapa jodohnya di akhirat. Jodoh yang tentunya sudah sesuai dengan yang kita minta tanpa perlu keluar sepatah katapun.
“Jazaa’uhum Inda Robbihin Janatu adnin tajri min tahtihal anharu Kholidzina fihaa abadaa, radyallahu anhum waraddhu anhu dzalika liman Khasiya Rabbah”
Selasa, Juni 09, 2009
Obama adalah sejarah yang Muda
Sejarah di negeri bernama Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Kata-katanya begini: ketika anda memilih sejarah niscaya anda tinggal sejarah. Sejarah didefinisikan sesuatu yang ketinggalan jaman, kuno dan tua. Sejarah dalam obrolan pergaulan sering ditujukkan untuk meremehkan sesuatu bahkan seseorang.
Jurusan sejarah dalam perguruan tinggi tak kalah miris, bukan saja tidak diminati calon mahasiswa saat mendaftar, mungkin juga yang sudah mahasiswa sekalipun tak pernah berfikir adakah jurusan ini dalam kampusnya. Kalaupun ada peminat jumlahnya kalah banyak dengan tim sepakbola. Pernah di tahun 2005 dalam sebuah kebetulan saya mendengar seorang mahasiswi berkomentar sambil menunjukkan wajah heran, dia berkata ‘memangnya apa sih dipelajari mahasiswa sejarah? Terus setelah lulus mereka jadi apa? Paling banter jadi guru sejarah!’.saat itu spontan saja saya berujar: Selamat! Secara perlahan Indonesia kehabisan jati dirinya dimulai semenjak sang mahasiswi ini berujar.
Jangan takut tahun ini (2009) keadaan akan segera berubah, bukan karena sang mahasiswi pindah jurusan, bukan karena Indonesia menaikkan anggaran khusus kepada perguruan tinggi jurusan sejarah, namun karena ada sejarah sedang berlangsung, sedang berkata-kata dengan sendirinya dan sedang jadi inspirasi lewat berdirinya saja satu orang ini, dan orang itu adalah Barrack Husein Obama.
Saya tak perlu lagi menghambur-hamburkan kata-kata, juga tenaga untuk menceritakan bagaimana seorang Obama dari sekedar mahasiswa bisa yang mengambil jurusan sejarah berubah menjadi presiden. Buku-buku dan orang2 kompeten sudah menceritakannya secara kumplit. Saat ini saya ingin sebentar menjadi (sok) cendikiawan Islam ala Din Syamsudin, menjadi ahli komunikasi politik ala effendi gozali dan sedikit menjadi sejarawan ala Gonggong dalam mengomentari pidato Obama mengenai dunia Islam tanggal 4 Juni 2009 di University of Cairo, Kairo-Mesir.
Dia (Obama) mengawali pidato dengan kata terimakasih. Kali ini kata fellow tak keluar selain sudah tidak berfungsi lagi sebagai komunikasi politik tapi mungkin Obama belum menganggap dunia Islam sebagai Fellow-nya.
Lalu dia cerita tentang hal yang mungkin saat kampanye dulu kurang populer yaitu: menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Kemudian dia bercerita tentang Keunggulan Islam dan kemuliaan seorang muslim. Sampai sini tak ada yang istimewa karena mencari data mengenai Islam tentunya mudah saja bagi Obama selain karena memang dia mempelajari sejarah ketika kuliah namun dia juga melihat langsung bagaimana kehidupan muslim dapat bertoleransi dengan banyak agama.
Keadaan mulai menghangat ketika dia mengutip ayat Al-Quran kurang lebih artinya “barang siapa menghancurkan satu orang tak berdosa maka hancurlah seluruh umat manusia” (maaf surat, ayat dan bunyi tepatnya saya lupa karena hafidz quran belum mampu). Saat ayat itu dibacakan serentak audience bertepuk tangan malah diantara penonton ada yang berteriak Allahu Akbar. Perkara kutip mengutip ayat suci ini sebenarnya bukan hal baru buat Obama, bila melihat media exposure-nya maka ini adalah kali kedua setelah dia mengutip kitab injil saat pelantikan dirinya menjadi presiden 20 Januari 2009 lalu.
Selanjutnya dia bicara mengenai kebebasan Islam di Amerika. Dia meyakinkan keadilan akan didapatkan kaum muslim bahkan wanita mendapat jaminan keamanan untuk mengenakan jilbabnya. Dia menceritakan jumlah mesjid di Amerika. Obama berusaha meyakinkan bahwa Amerika tidak membenci Islam melainkan para eksrimis islam yang memporak porandakan WTC.
Lalu dia mendukung kemerdekaan palestina dan meminta Israel membongkar pemukiman penduduk di daerah Tepi Barat. Isu nuklir Iran dan kesetaraan perempuan tak luput dari pidatonya. Terorisme dan kebebasan beragama juga jadi fokus utamanya.
Saya pikir takkan cukup kata untuk menguraikan jelasnya isi pidato Obama jadi lebih baik membaca sendiri isi pidatonya yang dikeluarkan oleh US Embassy untuk Indonesia. anda bisa memilih dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Karena saya suka dengan dunia komunikasi massa maka itu saja yang akan saya perdalam.
Sejak lama kebudayaan membaca selalu dianggap penting kehadirannya, namun tak pernah dianggap penting oleh anak muda. Maka hari itu saya melihat jelas perbedaannya. Obama yang suka sekali membaca membuat pembendaharaan katanya menjadi kaya, sehingga memiliki kekuatan dari kata-kata yang keluar ditambah dengan jurusan sejarah memang harus menjadi pembaca sebelum pengkritik. Saya belum pernah melihat orang dengan gesture tak segarang bintang rock kala konser namun dapat menundukkan dunia dalam diam seolah kehilangan kata sedikit saja maka hancurlah dunia. Bahkan di Kairo Obama mengalami sendiri hysteria ala konser rock lewat teriakan ‘we love you!’ dari seorang penonton. Sangat jauh berbeda dengan pidato pemimpin negeri ini yang gesturenya banyak actionnya sedikit begitupun dengan presiden Amerika Sebelumnya George W.Bush.
Balik lagi ke tulisan awal post ini mengenai sejarah. Ada baiknya para sejarawan (atau peminat besar terhadap sejarah) diberdayakan untuk mengisi posisi diplomatik pemerintahan. Kemampuan diplomatik akan menjadi jalan paling populer di abad ini, bahkan dalam hal perebutan wilayah Ambalat dan paten akan mudah bagi seseorang yang membaca sejarah. Ayo patahkan banyak klaim asing mengenai produk Indonesia lewat sejarah panjang Indonesia. Di tangan mereka nasib Indonesia ditentukan. Departemen luar negeri harus menempatkan orang yang sangat tahu Indonesia untuk ‘menjual’ Indonesia ke luar negeri. Hentikan memilih posisi diplomat berdasarkan anak diplomat yang sedikit sekali belajar tentang Indonesia, malah seperti tak kenal negerinya sendiri. Negara Indonesia bukan Batik, Bali, atau Gamelan. Kini posisi Indonesia sedang diperhitungakn. Obama 4x menyebut Indonesia dalam definisi yang positif. Banyak orang akan mendidik anaknya khas seperti orang tua Indonesia mangajari anaknya. Sopan santun yang jadi musuh modernisasi kini justru akan menempel pada modernitas itu sendiri. Toleransi umat beragama yang dulunya hanya jadi jawaban wajib di setiap soal PMP/PPKN kini akan menjelma, bahkan akan berdiri dalam setiap orang Indonesia.
Saya sedikit menyesal tidak menulis jurusan sejarah dalam UMPTN dulu, namun tak sedikit pun menyesal memilih Komunikasi sehingga tak mungkin lahir tulisan ini. Post yang ditujukkan untuk memotivasi dan mengompori orang lain agar lebih Indonesia daripada Indonesia yang luas itu sendiri.
Jurusan sejarah dalam perguruan tinggi tak kalah miris, bukan saja tidak diminati calon mahasiswa saat mendaftar, mungkin juga yang sudah mahasiswa sekalipun tak pernah berfikir adakah jurusan ini dalam kampusnya. Kalaupun ada peminat jumlahnya kalah banyak dengan tim sepakbola. Pernah di tahun 2005 dalam sebuah kebetulan saya mendengar seorang mahasiswi berkomentar sambil menunjukkan wajah heran, dia berkata ‘memangnya apa sih dipelajari mahasiswa sejarah? Terus setelah lulus mereka jadi apa? Paling banter jadi guru sejarah!’.saat itu spontan saja saya berujar: Selamat! Secara perlahan Indonesia kehabisan jati dirinya dimulai semenjak sang mahasiswi ini berujar.
Jangan takut tahun ini (2009) keadaan akan segera berubah, bukan karena sang mahasiswi pindah jurusan, bukan karena Indonesia menaikkan anggaran khusus kepada perguruan tinggi jurusan sejarah, namun karena ada sejarah sedang berlangsung, sedang berkata-kata dengan sendirinya dan sedang jadi inspirasi lewat berdirinya saja satu orang ini, dan orang itu adalah Barrack Husein Obama.
Saya tak perlu lagi menghambur-hamburkan kata-kata, juga tenaga untuk menceritakan bagaimana seorang Obama dari sekedar mahasiswa bisa yang mengambil jurusan sejarah berubah menjadi presiden. Buku-buku dan orang2 kompeten sudah menceritakannya secara kumplit. Saat ini saya ingin sebentar menjadi (sok) cendikiawan Islam ala Din Syamsudin, menjadi ahli komunikasi politik ala effendi gozali dan sedikit menjadi sejarawan ala Gonggong dalam mengomentari pidato Obama mengenai dunia Islam tanggal 4 Juni 2009 di University of Cairo, Kairo-Mesir.
Dia (Obama) mengawali pidato dengan kata terimakasih. Kali ini kata fellow tak keluar selain sudah tidak berfungsi lagi sebagai komunikasi politik tapi mungkin Obama belum menganggap dunia Islam sebagai Fellow-nya.
Lalu dia cerita tentang hal yang mungkin saat kampanye dulu kurang populer yaitu: menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Kemudian dia bercerita tentang Keunggulan Islam dan kemuliaan seorang muslim. Sampai sini tak ada yang istimewa karena mencari data mengenai Islam tentunya mudah saja bagi Obama selain karena memang dia mempelajari sejarah ketika kuliah namun dia juga melihat langsung bagaimana kehidupan muslim dapat bertoleransi dengan banyak agama.
Keadaan mulai menghangat ketika dia mengutip ayat Al-Quran kurang lebih artinya “barang siapa menghancurkan satu orang tak berdosa maka hancurlah seluruh umat manusia” (maaf surat, ayat dan bunyi tepatnya saya lupa karena hafidz quran belum mampu). Saat ayat itu dibacakan serentak audience bertepuk tangan malah diantara penonton ada yang berteriak Allahu Akbar. Perkara kutip mengutip ayat suci ini sebenarnya bukan hal baru buat Obama, bila melihat media exposure-nya maka ini adalah kali kedua setelah dia mengutip kitab injil saat pelantikan dirinya menjadi presiden 20 Januari 2009 lalu.
Selanjutnya dia bicara mengenai kebebasan Islam di Amerika. Dia meyakinkan keadilan akan didapatkan kaum muslim bahkan wanita mendapat jaminan keamanan untuk mengenakan jilbabnya. Dia menceritakan jumlah mesjid di Amerika. Obama berusaha meyakinkan bahwa Amerika tidak membenci Islam melainkan para eksrimis islam yang memporak porandakan WTC.
Lalu dia mendukung kemerdekaan palestina dan meminta Israel membongkar pemukiman penduduk di daerah Tepi Barat. Isu nuklir Iran dan kesetaraan perempuan tak luput dari pidatonya. Terorisme dan kebebasan beragama juga jadi fokus utamanya.
Saya pikir takkan cukup kata untuk menguraikan jelasnya isi pidato Obama jadi lebih baik membaca sendiri isi pidatonya yang dikeluarkan oleh US Embassy untuk Indonesia. anda bisa memilih dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Karena saya suka dengan dunia komunikasi massa maka itu saja yang akan saya perdalam.
Sejak lama kebudayaan membaca selalu dianggap penting kehadirannya, namun tak pernah dianggap penting oleh anak muda. Maka hari itu saya melihat jelas perbedaannya. Obama yang suka sekali membaca membuat pembendaharaan katanya menjadi kaya, sehingga memiliki kekuatan dari kata-kata yang keluar ditambah dengan jurusan sejarah memang harus menjadi pembaca sebelum pengkritik. Saya belum pernah melihat orang dengan gesture tak segarang bintang rock kala konser namun dapat menundukkan dunia dalam diam seolah kehilangan kata sedikit saja maka hancurlah dunia. Bahkan di Kairo Obama mengalami sendiri hysteria ala konser rock lewat teriakan ‘we love you!’ dari seorang penonton. Sangat jauh berbeda dengan pidato pemimpin negeri ini yang gesturenya banyak actionnya sedikit begitupun dengan presiden Amerika Sebelumnya George W.Bush.
Balik lagi ke tulisan awal post ini mengenai sejarah. Ada baiknya para sejarawan (atau peminat besar terhadap sejarah) diberdayakan untuk mengisi posisi diplomatik pemerintahan. Kemampuan diplomatik akan menjadi jalan paling populer di abad ini, bahkan dalam hal perebutan wilayah Ambalat dan paten akan mudah bagi seseorang yang membaca sejarah. Ayo patahkan banyak klaim asing mengenai produk Indonesia lewat sejarah panjang Indonesia. Di tangan mereka nasib Indonesia ditentukan. Departemen luar negeri harus menempatkan orang yang sangat tahu Indonesia untuk ‘menjual’ Indonesia ke luar negeri. Hentikan memilih posisi diplomat berdasarkan anak diplomat yang sedikit sekali belajar tentang Indonesia, malah seperti tak kenal negerinya sendiri. Negara Indonesia bukan Batik, Bali, atau Gamelan. Kini posisi Indonesia sedang diperhitungakn. Obama 4x menyebut Indonesia dalam definisi yang positif. Banyak orang akan mendidik anaknya khas seperti orang tua Indonesia mangajari anaknya. Sopan santun yang jadi musuh modernisasi kini justru akan menempel pada modernitas itu sendiri. Toleransi umat beragama yang dulunya hanya jadi jawaban wajib di setiap soal PMP/PPKN kini akan menjelma, bahkan akan berdiri dalam setiap orang Indonesia.
Saya sedikit menyesal tidak menulis jurusan sejarah dalam UMPTN dulu, namun tak sedikit pun menyesal memilih Komunikasi sehingga tak mungkin lahir tulisan ini. Post yang ditujukkan untuk memotivasi dan mengompori orang lain agar lebih Indonesia daripada Indonesia yang luas itu sendiri.
Senin, Juni 01, 2009
Gila Pengertian Pertama
Hari itu (19 Desember 2008), setelah melewati hamper ratusan kali rute Uber-Pasteur saya melihat setidaknya 3 orang gila -maaf kasar, kelak pasti ada sebutan lain- satu diantaranya perempuan. Beragam penampilannya mulai dari pakaian lengkap namun tak karuan, setengah telanjang -ini terjadi pada yang perempuan- sampai yang paling miris adalah telanjang seluruhnya. Bukan pemandangan indah untuk mengawali aktivitas pagi hari apalagi saat meluruskan niat untuk berjihad mencari rejeki.
Kata GILA memang menjadi hal yang lucu bila disandingkan pada obrolan ‘orang waras’ contohnya gila=keren, gila=kreatif. Tapi ketika Gila melekat pada ‘orang kurang waras’, maka kata itu menjadi profesi, sialnya profesi yang tak dicari para sarjana. Berikutnya adalah kasus yang saya bingung menempatkan kata Gila untuk tujuan apa karena membutuhkan pembahasan tersendiri.
Sore hari di Cicaheum arah menuju pulang, ruang jalan sebelah kanan sedikit macet, kupikir gara-gara jam keluar kantor. Semakin mendekati pusat macet saya tersentak karena melihat ibu-ibu memeluk anaknya tiduran dijalan raya!. Kupikir dia orang berprofesi Gila tapi ternyata bukan. Ibu itu berpakaian lengkap, bersih bahkan sopan.
Oh saya keliru dia bukan tiduran karena dia meronta ketika semua orang berusaha memindahkan, dia berniat BUNUH DIRI!.
Sudah sedemikiankah kehidupan membuat orang menjadi stress dan memilih gila? Tidakkah ibu itu berpikir bahwa kelak anaknya akan mengangkat derajat sang ibu? Atau berpikir bahwa ini adalah tangga lain yang harus dilewati dalam hidup hanya saja undakkannya lebih tinggi. Pertanyaan itu tertelan sendiri karena motor saya susah untuk berhenti terseret arus lalulintas.
Yang pasti ketika melihat kejadian secara langsung -bukan lewat TV- percobaan bunuh diri bukan saja menimbulkan kengerian tapi juga kesadaran dan pengetahuan lain tentang kehidupan.
Setiap mengingat kejadian itu saya sudah tak mungkin lagi tersenyum, karena tak ada satupun jaminan itu tidak akan menimpa orang terdekat atau orang yang bernama pipit nurul ini. Romantisme cinta sampai mati pun seketika tidak lagi dramatis seperti dalam opera. Kehidupan itu mahal, ruh setipis udara, bahkan kita tak pernah tahu kedipan mata yang keberapa yang akan membedakan hidup dan mati. Dari sini phobia saya terhadap kematian jsedikit mereda, bahkan saya siap seandainya ada yang membutuhkan bantuan mengurus jenazah. Terimakasih banyak pada kejadian hari itu, maka buat saya kata Gila berganti makna menjadi kecintaan pada Ilahi.
Namun ada satu hal yang membuat saya akhir2 ini hampir mendekati Gila sebagai profesi senyum-senyum sendiri dan merasa ‘napak bumi’. Adalah ketika melihat tulisan di belakang motor orang lain dan sepertinya akan menjadi ‘my tickleing word ever’ kuharap anda mengerti bahasa sunda bunyinya begini:
“Mun Rek Laun Mah Isuk Deui We Inditna Ulah Burunggusuh!!!” Huahahaha….
Kata GILA memang menjadi hal yang lucu bila disandingkan pada obrolan ‘orang waras’ contohnya gila=keren, gila=kreatif. Tapi ketika Gila melekat pada ‘orang kurang waras’, maka kata itu menjadi profesi, sialnya profesi yang tak dicari para sarjana. Berikutnya adalah kasus yang saya bingung menempatkan kata Gila untuk tujuan apa karena membutuhkan pembahasan tersendiri.
Sore hari di Cicaheum arah menuju pulang, ruang jalan sebelah kanan sedikit macet, kupikir gara-gara jam keluar kantor. Semakin mendekati pusat macet saya tersentak karena melihat ibu-ibu memeluk anaknya tiduran dijalan raya!. Kupikir dia orang berprofesi Gila tapi ternyata bukan. Ibu itu berpakaian lengkap, bersih bahkan sopan.
Oh saya keliru dia bukan tiduran karena dia meronta ketika semua orang berusaha memindahkan, dia berniat BUNUH DIRI!.
Sudah sedemikiankah kehidupan membuat orang menjadi stress dan memilih gila? Tidakkah ibu itu berpikir bahwa kelak anaknya akan mengangkat derajat sang ibu? Atau berpikir bahwa ini adalah tangga lain yang harus dilewati dalam hidup hanya saja undakkannya lebih tinggi. Pertanyaan itu tertelan sendiri karena motor saya susah untuk berhenti terseret arus lalulintas.
Yang pasti ketika melihat kejadian secara langsung -bukan lewat TV- percobaan bunuh diri bukan saja menimbulkan kengerian tapi juga kesadaran dan pengetahuan lain tentang kehidupan.
Setiap mengingat kejadian itu saya sudah tak mungkin lagi tersenyum, karena tak ada satupun jaminan itu tidak akan menimpa orang terdekat atau orang yang bernama pipit nurul ini. Romantisme cinta sampai mati pun seketika tidak lagi dramatis seperti dalam opera. Kehidupan itu mahal, ruh setipis udara, bahkan kita tak pernah tahu kedipan mata yang keberapa yang akan membedakan hidup dan mati. Dari sini phobia saya terhadap kematian jsedikit mereda, bahkan saya siap seandainya ada yang membutuhkan bantuan mengurus jenazah. Terimakasih banyak pada kejadian hari itu, maka buat saya kata Gila berganti makna menjadi kecintaan pada Ilahi.
Namun ada satu hal yang membuat saya akhir2 ini hampir mendekati Gila sebagai profesi senyum-senyum sendiri dan merasa ‘napak bumi’. Adalah ketika melihat tulisan di belakang motor orang lain dan sepertinya akan menjadi ‘my tickleing word ever’ kuharap anda mengerti bahasa sunda bunyinya begini:
“Mun Rek Laun Mah Isuk Deui We Inditna Ulah Burunggusuh!!!” Huahahaha….
Selasa, Mei 12, 2009
Alam tak pernah menipu
satu hari di tanggal 7 saya ke Subang
Ada rasa penat yang tak mau pergi, rasa berat yang entah berat karena apa. tiba sahabat mengundang datang ke pernikahannya langsung saja kuanggap itu hari untuk melarikan diri.
meninggalkan batas kota dengan kabupaten saya sudah lega, Ledeng yang biasanya kumaki karena macetnya hari itu kuanggap lengang. Motor yang biasanya melaju kencang kini kukendorkan. semakin atas lembang semakin hijau, terasa lepas kepenatan, sesak, silau karena budaya kota. harum rumput basah, embun tebal, hamparan teh membawa saya pada sebuah kenangan masa kecil, masa puber, kenangan yang sekiranya hari itu akan kututup namun tak berhasil. karena pemilik kenangan itu tak datang...
andai hari itu pemilik kenangan datang, bukan lagi cecaran yang kuutarakan. bukan kata mesra yang kubisikkan, bukan juga kenangan setipis asap kuhadirkan namun ucapan maaf. maaf karena ternyata saya jadi tau rasanya dulu disakiti, maaf karena kemanjaan yang katanya dia suka dariku ternyata membawaku pada pemikiran singkat dan tahukah... saya sedang merasakannya sekarang apa yang kamu rasakan dulu. ingin percaya ini karma tapi seorang muslim tak boleh percaya karma. karena tiap detik adalah darah itu sendiri bagi kehidupan seorang muslim, sekarang mungkin sial besok belum tentu. kebahagiaan bukan dari harta benda tapi dari hati. ketika kita percaya karma ada maka karma akan terjadi. terimakasih pernah melalui hari2 penuh kebodohan namun juga kelaparan mencari ilmu, andai dulu saya datang dipernikahanmu sayangnya kau lupa mengundangku. jadi inget buku keren karya Puthut EA berjudul SARAPAN PAGI PENUH DUSTA karena semua yang pernah kualami ternyata centang perenang dijelaskan dalam buku itu.
andai hari itu pemilik kenangan datang, bukan lagi cecaran yang kuutarakan. bukan kata mesra yang kubisikkan, bukan juga kenangan setipis asap kuhadirkan namun ucapan maaf. maaf karena ternyata saya jadi tau rasanya dulu disakiti, maaf karena kemanjaan yang katanya dia suka dariku ternyata membawaku pada pemikiran singkat dan tahukah... saya sedang merasakannya sekarang apa yang kamu rasakan dulu. ingin percaya ini karma tapi seorang muslim tak boleh percaya karma. karena tiap detik adalah darah itu sendiri bagi kehidupan seorang muslim, sekarang mungkin sial besok belum tentu. kebahagiaan bukan dari harta benda tapi dari hati. ketika kita percaya karma ada maka karma akan terjadi. terimakasih pernah melalui hari2 penuh kebodohan namun juga kelaparan mencari ilmu, andai dulu saya datang dipernikahanmu sayangnya kau lupa mengundangku. jadi inget buku keren karya Puthut EA berjudul SARAPAN PAGI PENUH DUSTA karena semua yang pernah kualami ternyata centang perenang dijelaskan dalam buku itu.
sebulan saya salin lagi sebuah buku yang pernah dikirim padaku, mati-matian kuketik dan kususun serapi mungkin. saya berniat bayar hutang apalagi dalam bukunya tertulis banyak puisi yang 'berjiwa'. kupikir kalau kukembalikan pada penciptanya maka karya yg berupa lempung akan berubah menjadi guci cantik. makanya buku itu masih ada padaku (siapa tahu penasaran)
Pernikahan sahabatku meriah sekali, saya bertemu beberapa teman yang masih mengenaliku (sayang saya punya short term memory hingga banyak yang lupa). dia bahkan menemaniku seharian merefresh lagi memori yang dengan susah payah ku recall. dia maklum, dengan bodohnya saya lupa kalau temanku ini sering menelepon sewaktu SMA bahkan dia mengiringiku pulang walau hanya sampai batas kampung, entah dia melihat post ini tapi kuucapkan banyak terimakasih untuk Darwan. semua kenangan ini membuatku merinding karena jaraknya hanya beberapa tahun saja tapi semua berubah total. saya hampir tak mengenali kampung tempatku dulu menikmati awal titik embun di pagi hari sehingga menghasilkan efek suhu yang seharusnya dingin menjadi hangat. atau berada di depan tungku/hawu sepagian bercanda dengan kakek-nenekku tercinta (moga mereka diberi keselamatan di Alam Barzah) sambil ditemani singkong mentega dan teh pahit yang jauh dari rasa kota. keramahan khas kampung berbaur dengan loe-gue di hape. ternyata benar tak ada keabadian di dunia.
Sepertinya saya akan kembali ke subang dalam waktu dekat dengan well prepare, batere Hp dan kamera full bat. bukan untuk pemilik kenangan, bukan demi masa lalu tapi untuk bersilaturahmi dan nyekar namun juga karena saya tahu alam tak pernah menipuku lewat keindahannya
Sabtu, Mei 02, 2009
Politik

Nyalakan TV! kagetlah
Ketika mengetik ini tangan saya gatal melebihi mulut mengomentari kasus pembunuhan Nasrudin dengan Tersangka Anatasari Azhar, saya ulang Antasari Azhar!!!
dunia terlebih lagi 2008 sampai 2009 adalah saat dimana orang 'naik dan turun' hanya dalam hitungan setahun. masih hangat dibicarakan bagaimana cemerlangnya seorang Antasari Azhar membongkar kasus korupsi besar-besaran selama tahun 2008. seiring dengan itu pujian, serta ulasannya banyak dicetak media dalam dan luar negeri. wajah dan karismanya pada masa itu seperti sebuah kesatuan yang tak terbantahkan. lalu lihat tahun ini? dia menjadi tersangka atau saksi dalam pembunuhan Nasarudin, hinanya lagi hanya karena urusan asmara pada seorang ayam kampus dan berprofesi sebagai Caddy rani juliani. ternyata pesona wanita telah membuat darah tumpah percuma bagi orang politik.
sewaktu belum terbongkar ada unsur asmara saya berpikir -berkhusnuzon- tepatnya bahwa antasari Azhar adalah korban aktor politik yang sekarang memang sedang terkenal semakin kejam. dia adalah tumbal dari lawan politik yang mungkin merasa dirugikan dengan diciduknya banyak tokoh dalam kasus korupsi. tapi tahu apa saya soal politik? tujuan mereka sudah jauh dari keinginan mensejahterakan rakyat, sampai rakyat muak dan memilih apatis terhadap pemerintah.
semoga ada yang sadar bursa pencalonan capres-cawapres sekarang ini menjadi ajang saling jilat-menjilat ludah. lucu juga melihat ketua Gerindra bergetar dan gugup berpidato dihadapan partai politik yang dahulu menjadi musuh bapaknya hanya demi koalisi capres-cawapres. saking muaknya rakyat ternyata para ustad ikut-ikutan gerah. entah pengajian keberapa saya mendengar mereka juga ikutan muak tentu saja dengan kalimat yang lebih halus seperti 'coba kalau damai barang sehari ikut berdoa bersama' dll yang sayang saya tak ingat persisnya.
sudah jangan bicarakan lagi bursa caleg yag carut marut itu, politik tidak membuat anda puas. jangan bilang demi alasan 'ingin bermain dari tengah bukan dari pinggir lapangan agar bisa ikut berperan mensejahterakan rakyat' menjadi boleh sikut-sikutan.
saya cukup berpolitik dengan tidak menjadi golput, bukan demi fatwa haram tapi demi suara saya yang ingin sampai ke senayan. dosen saya lain lagi bagi dia politik adalah kesenangan tak terkira. saya akan menuliskannya kenapa, dan saya akan menganggap anda tak mengerti bahasa sunda karena politik adalah ngompol dina liang seutik. duh tobat pak....
Langganan:
Postingan (Atom)
