Selasa, Oktober 30, 2007

Berlibur di Rumah Paman

Judul itu saya pilih karena selalu ingat lucunya pada temen kampus ketika melihat saya bingung cari judul dianya ngeledek demikian.
ganti topik saja ke lebaran toh aroma syawal masih kental diudara
hampir kecewa karena saya pikir harus menjilat ludah sendiri dengan tulisan saya di blog bahwa takbiran selalu hujan. takbiran tahun ini tak hujan!, namun siangnya sang hujan baru turun jadi saya bisa lega hati setahun kedepan rahmat masih turun, namun bulan memang tak muncul. khusus untuk bulan yang jadi polemik seru di blog pejalanjauh, p pikir karena selama puasa kita menantikan bulan. bulan muncul hanya beberapa derajat dari garis langit sudah masuk lebaran. makanya ada 2 pendapat dalam menentukan hilal ini, herannya sekarang sudah ada 3 pemikiran tentang datangnya lebaran. saya sih mengamati saja.
namun ada yang bikin saya lebih kecewa, saya tak menonton warkop DKI di hari lebaran. memang begitu tradisi kita berjalan selama ini bukan? ketupat, baju baru dan warkop DKI. saya seperti kehilangan semangat lebaran tanpa adanya film mereka di TV. tak lama kecewa saya terbayarkan karena Trans7 menayangkan film mereka selama sepekan yah lumayan-lah.
masih inget waktu kecil dulu semua anak muda memadatangi gedung bioskop khusus untuk menonton film sang trio legendaris. marketingnya juga hebat hanya menayangkan film terbaru di bioskop di hari dekat2 lebaran, entah pertimbangan anak2 hari itu berdompet tebal hadiah THR ortu-nya atau pertimbangan hari libur. apapun itu, strateginya berhasil! strategi yang sama kini sedang diikuti oleh generasi baru dengan meluncurkan film get merried sebelum lebaran. namun sepertinya tak menjadi box office dan saya belum menontonnya.
namun ada satu yang jelas harus ada yaitu permohonan maaf, dari hati yang cantik dan terdalam, pipit ucapkan
TAQABALALLAHU MINA WA MINGKUM SHIAMANA WA SHIAMAKUM. MINAL ADIDIN WAL FAIDZIN
buat orang yang berhasil berperang melawan hawa nafsu.

Rabu, Oktober 10, 2007

Likuran

kalau akhirnya pertanyaan ini malah membuat saya balik ke jaman dulu yang masih berpikiran sempit, tepatnya jaman Raja Henry, saya tak berkeberatan.
kenapa harus ada tanggal 31?
selain ditanggal itu saya berkeberatan dengan kegiatan tertentu, tanggal itu pula yang kadang membuat saya linglung tentang sudah atau belumnya bulan mendatang saya masuki, namun juga tanggal itu yang membedakan kalender Masehi, Hijriah dengan tahun cina.
mulanya saya tak pernah mendapat jawaban semenjak kecil mengapa saya selalu mencium tanah basah selagi sholat Id, saya kecil kecewa karena sajadah baru juga basah karena rumput lapang semalam terkena hujan. semakin beranjak sering melewati sholat Id saya jadi tahu tiap takbiran hari selalu hujan. ini juga yang mungkin menyebabkan pertanyaan mengapa tiap takbiran tak ada bulan.
di keheranan yang sama namun kerumunan khas orang china saya kembali berpikir kenapa tiap imlek selalu hujan? satu-satunya jawaban hanya dari tetangga yang menjawab memang setiap imlek selalu hujan karena menandakan rejeki turun, bahkan bila sampai banjir maka banjir pula rejeki kita tahun tersebut. tetanggaku menjawab itu atas dasar tradisi bukan ilmu. berarti bisa juga kusambungkan bahwa tiap takbiran kita sedang dihujani berkah.
lain lagi sekarang, konon global warming membuat siklus dan suhu dunia berantakan. bahkan kebiasaan ibu sobatku yang mengajarkan pada murid SD bahwa musim hujan adanya di bulan berakhiran -ber menjadi ragu akan ajarannya sendiri.
pada satu tahun kita pasti bertemu 1 syawal dan imlek yang keduanya hujan, namun kenapa tiap 1 januari tidak hujan? harusnya ada satu tanggal masehi yang bisa menentukan kepastian hujan. ini dikarenakan masehi kelebihan satu tanggal dibandingkan dengan hijriah ataupun tahun cina. tanggal 31 menentukan semua ketidaksinkronan tersebut. berarti sebenarnya perputaran bulan dan astronomi jauh lebih akurat di bulan yang berisi 30 hari. toh penanggalan 31 juga bukan dari astronomi yang njelimet namun dari deklarasi seorang pastor di jaman Raja Henry yang lupa keberapanya. dan kenapa di tahun masehi semenjak tahun 2000 kita berpuasa 29 hari?? saya tak mau menyalahkan pemerintah ataupun organisasi Islam tentang perbedaan 1 syawal, dan tidak menyalahkan siapapun untuk memilih dihari apa ingin berlebaran. saya hanya rindu satu gema takbir, satu tanggal yang sama, satu untaian langkah yang sama. pada akhirnya memang perbedaanlah yang membuat dunia berwarna.
bila terdapat kesalahan data ataupun peristiwa murni keteledoran saya. memang sudah kebiasaan saya yang sering membaca namun tidak mengingat jelas detil seperti nama, tanggal ataupun tempat. yang saya ingat hanya garis besarnya saja. ijinkan saya untuk belajar lagi.
balik kepersoalan hujan adalah rejeki, saya selalu rindu hujan. bukan karena hujan adalah 1 dari 7 waktu yang tepat untuk berdoa atau bukan karena di tetesan hujan pertama doa biasanya terkabul, saya rindu hujan karena hujan membawa saya pada keutuhan batin yang tak terbayar sang matahari atau bintang. bilapun tidak norak saya sudah menari disebelah tihang memainkan selendang bak film India sebagai wujud kesenanganku pada hujan. sebelum itu semua dilakukan pastikan sudah mengamankan jemuran.

Selasa, September 25, 2007

Saya perlu membuat klarifikasi secepatnya, kalau selebritis saya tambahkan jumpa pers dalam jadwal saya.


dalam post sebelumnya saya cerita tentang hilangnya handphone dirumah sendiri, sekarang Hp itu kembali. dan hebatnya ramadhan membuat si pencuri tobat (mungkin) karena di pagi harinya Hp ku sudah ada dalam keresek yang di gantung di handle pintu.


see? saya semakin tak meragukan mukjizat. kebesaran ALLAH mempesonaku, mungkin nanti dirimu. cerita padaku ya....

Selasa, September 18, 2007

Dan terjadi lagi

ini handphone kedua, nomor hp ketiga yang hilang dan seribu tetes airmata mengiringinya.

bedanya sekarang nangisnya ga lama-lama berhubung sedang Ramadhan saya langsung insyaf bahwa hal itu mesti terjadi. jangankan HP kelak orang tersayang hilang tak banyak yang bisa kita lakukan, akhirnya saya ikhlas saja. tak ada se-mili pun kerikil bergerak tanpa seijin penciptanya, Allah.
waktu awal ramadhan saya menyaksikan showbiz on location tentang liputan pembacaan puisi karya syekh Fattah, saya amazed dengan bagaimana orang-orang sebegitu mencintai penciptanya. saya langsung ingin mempelajari sufisme apalagi sebelumnya saya juga terkagum-kagum oleh tulisannya pejalanjauh tentang sufisme . namun sayap masih tersangkut duniawi tentang sederet kewajiban mulang pada ortu sehingga melulu memikirkan materi dunia juga pendidikan yang lambat usai. berdoa saja semoga nanti niat ini kesampaian toh saya tak pernah meragukan kebesaran ALLAH. saya sudah dibuatNYA terkesan dengan banyak mukjizat dan siap terkesan dengan Mukjizat lainnya. makanya terkait dengan tulisan saya dulu saya tetapkan saja niat ini, dan ucapkan bagai mantra.

Rabu, September 12, 2007

Ucapkan Bagai Mantra


Lama tak Posting saya hendak berbagi beberapa kejadian yang terjadi secara tak terduga membuka mata saya, hampir menyita banyak pikiran dan tenaga.

Sudah jadi pengetahuan umum siapapun yang pernah ke Bandung mengatakan bahwa Lalulintas diBandung lalulintas teraneh dari sekian kota besar di Indonesia. Banyak orang luar kota merasa kesulitan, dan ini terjadi pada saya diujung Agustus kemarin. Bayangkan saya yang merem melek lihatnya langit Banudng masih ditilang gara-gara masuk jalur cepat (ini kali pertama saya ditilang), padahal saya berniat memutar arah rincinya tak perlu dijelaskan karena takdir sudah terlewati yakni saya memilih disidang daripada memberi uang haram pada polisi yang mungkin juga nanti diberi pada istri dan anaknya, maka saya telah mencelakai satu keluarga.

Dikertas tilang ditulis sidang jam 8. setengah jam sebelumnya saya sudah datang berhubung kantor yang akan saya hadapi adalah pengadilan negeri yang tentu tahu tentang hukum. Baru saja saya matikan mesin motor petugas parkir entengnya bilang sidang paling jam 11 duh luar bisa bukan ngaretnya. Saya berkeliling saja menghabiskan waktu didaerah Jl Citarum.
Jam 10 saya balik lagi ke PN dan luarbiasa kagetnya ternyata saya ditawari 'cara mudah' mendapat SIM yang ditahan PN oleh para Calo. Mereka sudah tahu orang dalam, POLRES mana dan tetek bengek lainnya. Dan bukan satu tapi hampir tiap saya melangkah saya dikerubuti calo. Herannya lagi pejabatnyapun menawarkan cara mudah itu mulai dari satpam sampai petugas diruang siang, jasanya 15rb saya tegas menolak kalau hanya alasan kemudahan saya pasti sudah memilihnya ketika dtilang dulu. Saya sengan santai menjawab “justru saya memilih sidang karena ingin tahu seperti apa sidang tilang itu” mereka kecewa dan menjelaskan artinya itu bakal lama sekali saya tak bergeming.

Dan sidang dimulai jua, ruanganya penuh sesak dengan berbagai alasan perkara. Namun ternyata kurang dari 30 menit saya sudah duduk dikursi pesakitan sekitar setengah menit dengan dakwaan hakim “Pipit Nurul, melanggar marka jalan, denda 20rb uang perkara 1000” sesimpel itu dan palu diketukkan tak berapa lama SIM saya sudah ditangan. Tak terbayang jam berapa sidang itu akan berakhir mengingat sang hakim mendakwa satu persatu. Namun 30 menit yang tak sia-sia karena bisa menghemat 15rb untuk sesuatu yang benar.

Loncat ke kejadian yang membuat saya takjub dan berkali-kali menyebut nama Allah karena saya jadi merasa kecil. Saya ini pecinta kucing, namun tak pernah punya kucing lebih dari setahun karena seringnya kucing yang saya urus dicuri dan mungkin sudah berjejer ada di trotoar BIP, dan sehari sebelum Ulangtahun seorang teman memberika kucing anggora tanpa sayarat padahal sebelumnya susah sekali berhubung dia seorang catlover juga breeder. Sepanjang jalan liur saya menetes melihat deretan lengkeng yang dijajakan PKL eh sampai rumah ternyata ada. Dan yang paling saya takjub sewaktu teman memberikan buku yang ditulis Habiburahman El Shirezy yaitu ayat-ayat cinta. Padahal bila diungkit kebelakang keinginan saya baca buku itu sudah terpendam setahun lamanya. Orang yang skeptik pasti bilang “kan tinggal beli aja toh bukunya best seller” namun tak semudah itu setiap saya ke toko buku dan memegang Ayat-ayat Cinta bersiap membayar ada saja penghalang pembelian itu diurungkan, jadinya saya sering membeli buku lain dan setiba dirumah lalu menyesal. Makanya ketika teman menghadiahkan buku itu saya bilang padanya emang takdir tuh aneh jalannya. Mungkin begitu juga dengan jodoh.

Mungkin hal diatas tak pernah terucap pada seseorang namun pasti terucap keras dihati, Allah yang Maha baik mendengarnya lalu mengabulkannya. Hati sekarang sedang diam kuharap sekarang dia meneriakkkan hal yang baik-baik sesering mungkin dan ketika yang diteriakkan ada, saya pasti menangis terharu

Saya memang melankolis sedikit romantis mungkin, bukan tak mungkin banyak yang nyinyir dan menganggap biasa kejadian seperti ini. Saya selalu mengggap hal kecil saja luar biasa seperti melihat air, kenapa bentuknya begitu lalu bertakbir, pohon tumbuh dihalaman maka lengkaplah arti diri sebagai manusia. Itulah sebabnya uang tak pernah jadi faktor ukuran kebahagiaan saya. Seperti sekarang saya sedang bahagia besok akan Ramadahan, bibir mulai bergetar dengan Kesempatan yang Allah Berikan. Dan bergetar pula memohon ampun pada kalian semua atas banyak doa. Taqaballahu mina wa minkum siamana wa shiamakum. Moga berkah Ramadahan Menghujani kita.

Selasa, Agustus 28, 2007

Bak Cacing kepanasan


27 Agustus Bandung luarbiasa dingin mau siang ataupun malam. jam 11 siang saya masih dikasur selimutan 2. bukan mengeluh saya malah merindukan Bandung sedingin itu.

saya melemah ditempat tidur, udara dingin tapi saya gilinggisik ga karuan. tangan saya mengetik pesan singkat lalu dihapus. ketik lagi hapus lagi. inginnya dikirimkan tapi saya tak punya cukup alasan kenapa saya masih saja mengingat ulangtahunya atau parahnya mengucapinya selamat. kurang ajar bila bilang kangen. sudah hampir tahun keempat dan janji yang keseribu untuk lupa dan hasilnya nihil. bahkan ditelinga saya masih saja ada derai tawa yang ulang tahun.

untungnya saya masih tersadar pada kemungkinan bahwa yang berulangtahun amnesia tentang saya atau yang ulang tahun sudah punya pendamping hidup. saya akan menghina diri dan menganggap rendah diri bila nantinya pesan singkat saya merusak harmonisasi orang yang sedang jatuh cinta. saya juga tersadarakan posisi hanya 'nduk' yang disebut oleh sang kakak kepada adiknya. pesan singkat tak jadi dikirimkan.

tadinya Blog saya ingin 'bersih dari apa yang saya rasa' atau narsisme lain. tapi kadung gila saya teruskan saja.

apa ada yang sadar kemarin bulan sedang purnama dan indah sekali. terang dan tak ada bintang hanya awan kencang berkejaran. mengingat boscha mengingatkan hari ini ada gerhana saya jadi sok melankolis menatap lekat sang bulan yang bayangannya terpantul indah di permukaan kolam ikan besar disebelah rumahku milik abah engkos. ketika saya menulis ini dipastikan teman-teman sudah muntah ber-ember-ember dan terheran-heran kemana ini tulisan mengarah. saya membayangkan dosen filsafatku bakal memarahiku karena selalu mempersonifikasikan benda mati daripada berkonsentrasi pada ilmu dan skripsiku, dia ketakutan nanti skripsiku isinya "wahai sang penguji utusan jelmaan aristotles.... dsb . mungkin juga teman2 yang punya pengalaman menulis mengaggap ini picisan.

yah ga apa-apalah terserah saja. karena ketika kalian sedang merasa hal yang sama saya maklum dan menjawab 'wajar....'

Minggu, Agustus 19, 2007

Biological Barcode

Pernahkah tanpa disadari anda tahu bahwa orang yang menelpon atau berkirim SMS adalah orang yang anda maksud tanpa harus melihat layar ponsel?, anda mengetahuinya justru dari ringtone atau fibrate yang ditimbulkan padahal anda menggunakan ringtone yang sama. saya menganggap setiap orang punya ringtone atau fibrate tertentu untuk mengidentifikasikan dirinya yang serumit sidik jari untuk menjadi spesifik dalam penggunaan teknologi sekalipun.

pernahkah juga anda tahu siapa yang akan datang kerumah lewat sayup suara motornya yang berada lebih dari 100 meter dari rumah? padahal mungkin yang dipakai motor yang sama,

ada yang menyebut intuisi saya meyebut itu sebagai Biological Barcode,

saya termasuk orang yang sloppy untuk sekedar iseng meneliti setiap kejadian untuk menarik sebuah kesimpulan, saya hanya mengetahui apa yang sering ter-indra menjadi terbiasa.

sepertinya bila di computerized manusia memiliki barcode sendiri, atau saya berpikir udara sebenarnya partikel padat, seperti pasir atau air, yang pergerakannya sedikit saja orang disekitar terasakan gelombang atau gerakannya. mereka punya code sendiri yang bisa gunakan untuk menyampaikan pesan, sayang saya bukan anak IPA jadi tak tahu mengenai rumus teori ini. andaikata ini diperdalam kita bakal tahu tentang bencana alam jauh sebelum terjadi bahkan orang yang berniat jahat sekalipun. bahkan udara bisa menyortir berita baik atau berita buruk yang akan mampir ketelinga seseorang. tanpa melupakan ada BIG POWER yang menguasai alam.

banyak kejadian sebenarnya, seperti waktu SMU saya makan disuatu rumah makan, kondisinya tak beda dengan rumah makan biasa, namun sejam sebelumnya saya tahu pemecatan bakal terjadi, baru saja saya berpikir demikian manajer dan salah satu pelayannya masuk keruangan staff dengan mimik muka tak seramah biasa. dan benar saja tak lama pemecatan yang kurang sopan tepat terjadi didepan hidungku mirip dengan film kartun yang membentak 'kamu dipecat!' tapi tanpa tendangan keluar ruangan pastinya.

temanku di kampus lain lagi, dia selalu saja cerita tentang teman terdekatnya sampai detil (khas orang kasmaran bukan?) dan yang khas juga orang yang mendengarkannya jadi Gedeg' kadang ocehannya itu cuman didengar seperapatnya saja. akhirnya dalam segala kelelahan saya menyuruhnya diam lalu saya bilang" kamu harus gini..... soalnya dia.... nantinya dia bakal... percaya deh akhirnya dia bakal bicara...". sumpah saya tak pernah berencana bicara perti begitu namun herannya ucapan saya 99% benar!, waktu itu saya sebut itu cuman keberuntungan 1:1000, dan menolak dengan keras ilmu klenik.
saya dulu berpikir jauh lebih mudah menilai masyarakat kota nan modern, karena mereka selalu menurut pada sebuah kertas hukum, ilmu atau tatakrama tertentu. saya pikir daripada sibuk mikirin aturannya saya persiapkan diri saya untuk menghadapi 'kunci' orang yang melanggarnya. semula berhasil namun kemudian saya keblinger.

sepertinya ini yang membuat skripsi saya terkatung tak karuan sibuk mengurusi hal kecil, hal yang besar terlupakan. namun dari udara yang saya rasakan saya mengira skripsi saya akan selesai sesuai waktunya. wallahu a'lam bishshawab

Selasa, Juli 31, 2007

Tuhan Izinkan Aku jadi Pelacur

sudah lama saya tak membaca buku selain buku akademik. sesaat saya ingin melarikan diri lalu teringat pada Muhidin M. Dahlan, saya mengenalnya ketika blognya masih 'sayamenulis' dan menyebut dirinya dengan Gus Muh, kukira dia mahasiswa seumuranku pantesan dulu ketika ditanya tentang hujatan pada majalah Playboy Bapak ini justru menjawab 'tak tahu karena aku termasuk orang yang dihujat', karena tak mengerti kulupakan saja. belum berapa lama saya Link dia lewat blog Zen dan tersesima bahwa ternyata bapak ini penulis yang Mumpuni, terbitkan banyak buku dan menjalani hidup tak biasa.


saya mencari bukunya mulai dari Pasar Palasari sampai toko buku Togamas yang konon kantor pusatnya di Jogja. semuanya nihil hanya ada in-order salah satu judulnya Tuhan Izinkan Jadi Pelacur. untungnya sang penulis suruh saya ke Gramedia pusat malah dengan lengkap dia bilang 'sebulan lalu mampir ke sana, buku saya ada di lantai satu di pintu masuk sebelum pengunjung naik ke lantai dua... di bandung baru masuk tahun ini setelah empat tahun terbit. Nggak tahu juga apa soalnya' curiga selain jadi penulis dia juga merangkap marketing dan guide toko maaf GusMuh anda salah! adanya dilantai tiga sebelah kanan tangga dekat informasi bersebelahan dengan buku aduh lupa namanya tapi sampulnya ada gambar pisang besar 3 buah warna kuning.


saya bawa buku itu ke Kampus, diem diperpus yang tadinya mau liat skripsi malah jadi ajang perawanin buku GusMuh, saya membaca dah bak model sering berganti posisi. dibangku koridor duduk sendiri sepatu dilepas, mulai dari bersila, duduk bak sinden akhirnya selonjoran kesemutan. mahasiswa yang lain pasti mengira aku ndeso, dan tebak? mereka benar...


Kirani seperti saya sekarang Gusmuh tentunya tanpa burqa dan Freesex namun pemikiran saya mirip dengan bahasa buku Gus 'tercabut akarnya', saya begitu bukan ikut organisasi jamaah namun kurangnya guru yang netral. pandangan saya sama tentang kaffah namun menganggap sah sekulerisme, wajarkah itu gus..., saya hampir berpikiran sama dengan Nidah Kirani, namun kemudian saya memang punya pemikiran bahwa buku dan pengarang tak bisa dikatakan mirip.

bicara soal jamaah2 ternyata saya sering denger bahkan guru ngaji saya pernah ketipu dengan organisasi2an ini (guru ngaji ini beken di Bandung bakal netes semenjak Aa Gym sepi) dan memang benar pembunuhan halal bila keluar dari jamaah. serem ya Gus... coba dulu Kirani waktu merasa diteror mulai lagi dari nol mencari teman, guru baru. well itulah jalan hidup

teman saya lain lagi dia malah secara intensif didatangi kerumah oleh sang jamaah, awalnya menarik namun makin lama ada pandangannya tak sesuai, dan jualannya jemaah ini berhenti ketika teman saya menolak memberi uang mungkin sang jamaah menyerah.
menurut temanku ini konon sang jamaah ini cerdas sekali tapi keluarganya seperti kewalahan karena barang dirumah sering dijualnya bahkan sampai beras!


tips saya baca bukuny sampai beres tiap kata! overall buku ini bagus tak pasaran seperti kebanyakan penulis baru yang bersembunyi lewat judul yang distinctive dan untuk menarik perhatian digunakanlah judul yang menyangkut selangkangan.
jujurnya memang hampir tertipu berfikir demikian dengan semua judul buku GusMuh. tapi berhubung saya kenal dan melihat sedikit ulasannya diblog beserta testimoni yang membaca jadi ga mungkinlah ini buku porno pikirku dan memang terbukti. eh ternyata ada hubungannya ya antara pertemanan dengan lakunya sebuah buku. apa harus saya jadikan ini judul skripsi ya? bahkan kayanya blog lebih manjur daripada majangin buku di tokobuku. ga kebayang ya Gus kalo Zen yang tar terbitin buku... bukan cuman protes namun melihat banyaknya orang yang mampir diblognya bakalan laris dia jualan.


saya tak sabar membaca koleksi lainnya bila nanti hadir di Bandung sekalian aja gitu beli ke penulisnya, ato kalo GusMuh ke Bandung Telp aku ya..... gada pembantu nih dirumah.hehehe... salam ma sikecil

Kamis, Juli 19, 2007

JANGAR

ceritanya gini...

temen2 udah pada seminar, sebagian kawin duluan (ga nahan mungkin), sbagian lain pada sibuk dengan masa depan cerahnya.

saya ni sedang mumet ga karuan, nilai saya jeblok semua padahal udah jujur2an (yang nyontek dapetnya bagus2), rancangan judul skripsi keduluan orang, mana setiap perusahaan yang pengen saya masukin buat skripsi birokrasinya sangat Indonesia, dan ngurusin surat2 dikampus? ampun deh jauh mending ngurus surat ijin kawin dikampung orang (katanya).

jangan tanya banyaknya buku motivasi yang saya baca biar semangat, ada yang tipsnya pecat bos anda, be different, out of the box, caina herang laukna beunang, sampai pepatah dosenku dulu Mr Agus 'seandainya kita pengen makan gajah pun kan ga segajah-gajahnya kita telan, tetap saja yang dimakan apa yang ada di sendokan' dan tebak semuanya gada yang manjur. malah saking kesalnya pernah kepikiran saya gambar saja gajah dikertas lalu saya makan sama roti!. dan herannya kenapa gajah ya? kenapa bukan ayam yang lezat itu atau ikan paus yang bagus buat vitalitas. sudahlah

pengennya terus nyengir, cuek, dan easy going kok lama2 malah lebih pantes diem di RSJ daripada kampus, atow sekalian aja ya di RSJ kita skripsi? judulnya PENGARUH SKRIPSI PADA PENINGKATAN PASIEN RSJ di BANDUNG pasti gada yang nyamain selain anak2 psikologi. tuh kan? benar saja saya mulai gila....
tenang pit... just believe Allah SWT save the best for last

Minggu, Juni 24, 2007

Gajah di pelupuk mata

saya sudah pasrah pada kehidupan, berkejaran dengan hasrat dunia malah menderita. menata laku justru tak terbersit keikhlasan meski besar seperti gajah.

saya ingat sekali aktor sekelas bollywood saja langsung mengerti, ketika ditanya mengapa perannya bersama lawan main sangat kacau padahal mereka sedang saling jatuh cinta, sebaliknya ketika menjadi sahabat aktinya justru brilian.
katanya ketulusan itu tak pernah tertangkap kamera, aktinglah yang justru dianggap nyata. dia sedang membicarakan film-nya namun dalam benak saya dia sedang membicarakan kehidupan itu sendiri.

saya setuju kalau begitu kubilang aca-aca!